Perjalanan dinas saya kali ini membawa saya ke salah satu bendungan yang cukup besar, Jatiluhur, Purwakarta. Kali ini selain mendapat kesempatan untuk menikmati track sepeda yang masih segar dan sangat mulus saya juga berkesempatan untuk menikmati makanan khas yang ada di Purwakarta.
Sebelum saya berangkat, banyak rekomendasi dari kawan-kawan saya untuk mencoba Sate Maranggi, salah satu sate yang cukup terkenal di daerah Purwakarta. Maka, tak banyak pikir, sepulang bermain sepeda, saya pun mencoba untuk mencari keberadaan Sate Maranggi ini. Rumah makan ini sangat mudah untuk ditemui, terletak di Jalan Raya Cibungur, Purwakarta, rumah makan ini tepat ada di sebelah kanan jalan. Jadi kalau Anda menuju arah Jakarta, jangan masuk tol, gunakan jalur lama dari arah Bandung ke Jakarta dan selalu waspada sebelah kanan jalan Anda. Rumah makan ini juga sangat mudah ditemui dan sangat ramai.
Tanpa ba-bi-bu, pertanyaan standar pun terlontar, “Yang khas rumah makan sini apa mbak?”, Tanya saya ke si pelayan. Sate Kambing, Sate Sapi dan Sop Dengkul pun akhirnya jadi pilihan saya atas rekomendasi si Mbak. Tak sampai 15 menit, makanan saya sudah tersaji di meja makan. Yang pertama saya coba adalah Sop Dengkul, dan slluurrpp… luar biasa rasanya! Segar, gurih dan sagat nikmat (saya tidak menambahkan campuran apapun ke sop ini, dan saya menyarankan demikian) kikil dan tulang muda yang disajikan pun sangat empuk. Tak perlu usaha susah payah untuk mengunyah.
Cukup puas dengan Sop ini saya mencoba sate kambing—yang konon sangat enak—dan sekali lagi saya merasakan kesempurnaan. Selain daging kambing, sate ini juga menyematkan beberapa potong hati yang semakin meningkatkan rasa nikmat, dan sate ini tanpa lemak. What a meal!
Yang menarik dari sate ini adalah sambal yang disajikan telah dicampur dengan irisan tomat dan sedikit bumbu kacang, kecap akan disediakan di meja dan kita bisa dengan bebas mencampur bumbu ini. Jika Anda tidak terlalu suka pedas, saya sarankan tidak mencampur semua sambal dengan kecap. It’s very hot!
Tiba pada menu terakhir, saya agak pesimis dengan sate sapi yang disajikan, karena menurut saya agak susah mengolah sapi dengan potongan yang agak tebal dan dibakar. Kadang-kadang daging masih a lot atau kurang matang, tapi ternyata SALAH! Dagingnya empuk, bumbu sangat meresap dan tanpa lemak! Again I feel free to eat now… *liat perut buncit*
Tiba pada bagian yang kurang menyenangkan dari prosesi makan-minum ini: membayar. Untuk 15 sate sapi, 5 sate kambing, 1 porsi Sop Dengkul, 3 Teh panas dan 3 Nasi timbel, saya diganjar dengan nominal 57.000 rupiah!! Luar biasa murah!
Saya pun pulang dengan tersenyum puas dan mulai memikirkan kapan saya akan kembali ke tempat ini….
Bagaimana dengan Anda? Sudah pernah mencoba?
Bagi anda pencinta kuliner pasti sudah tidak asing dengan nama Soto Tangkar Tanah Tinggi. Ya, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mencicipi soto legendaris ini.
Bagi anda yang belum tahu apa itu soto tangkar, Soto Tangkar adalah soto khas Betawi masih sepupu lah dengan Soto Betawi, hanya saja kuahnya lebih merah, dan memang ciri khas betawi (baca: jeroan, santan dan daging) masih lekat di soto ini. Konon soto tangkar, pada waktu Indonesia belum merdeka, hanya dinikmati oleh rakyat jelata karena berisi daging dan tulang sisa, namun seiring berjalannya waktu, Soto Tangkar telah dinikmati berbagai kalangan.
Ok, kembali ke Soto Tangkar Tanah Tinggi, pertama kali saya sampai di tempatnya hal pertama yang terlintas adalah, pasti sotonya enak sekali, karena tempatnya kecil, sumpek, panas, asap dimana-mana TAPI penuh! Akhirnya saya pesan chef specialty, soto tangkar campur dan sate sapi. Tak lama soto hadir dengan isi yang penuh dan sate datang ditemani saus kacang yang banyak, dan potongan daging yang cukup besar. Slluurpp… kuahnya gurih, bukan cuma gurih, ada satu rasa yang saya belum bsia ceritakan, karena saya juga kurang paham rasa apa, tapi yang pasti cukup menggoyang lidah ko!
Santan yang super kental dan jeroan yang banyak tidak lantas membuat soto ini jadi eneg, tapi sebaliknya, malah bikin napsu ngembat, kalau kata orang betawi. Jeroan empuk, kikil tidak terlalu lembek, nearly perfect. Mungkin ini efek mereka memakai bara kayu untuk masak bukan kompor gas. Beralih ke sate, potongan daging yang besar membuat sate yang disajikan sedikit alot, tapi masih dalam batas wajar lah karena masih bisa dikunyah dengan cukup baik. Bumbu kacang yang disertakan memang tidak diberikan terlalu banyak kecap, toh kita bisa tambah sendiri. Cukup okelah sate yang satu ini.
Sebenarnya disini juga ada sop kambing, saya sempat mencicipi sedikit—minta punya teman—tapi ko agak kurang ya? Mungkin sop kambing ini hanya menu tambahan jadi kurang dapat “perhatian”. Kalau mau mampir, saya sarankan jangan pas jam makan siang, karena seperti yang saya sebutkan tadi, panas, penuh sumpek… tapi tetep ko, tetep enak.
Price: 30.000-an untuk soto, nasi, perkedel, teh dan sate
Tempat: Jl. Tanah Tinggi III No. 54, Jakarta Pusat, masuk lewat Kelurahan Tanah Tinggi. Buka Jam 11:00-21:00
Spit Your Words!