//
archives

sate

This tag is associated with 2 posts

Nasi Pecel Kemayoran

Jika Anda bertandang ke Kediri pasti Anda akan menjumpai Nasi Pecel, makanan khas kota Kediri. Saya sendiri sebenarnya penikmat makanan yang dominan sayur, nah, pecel ini akhirnya menjadi makanan paling dicari kalau saya main ke daerah Kediri atau ke Malang (fyi, Malang juga punya pecel yang cukup enak lho!).

Jujur, di Jakarta saya belum sempat menemukan tempat makan pecel yang cukup enak, sampai pada satu hari saya jalan-jalan ke daerah Kemayoran dan voila! Saya menemukan tempat makan pecel yang cukup enak.

Yum Yum!

Warung pecel ini agak terpencil (see map) tapi ramenya, masyaallah! Sampe rebutan tempat duduk! Jadi saran saya kalau kesini jangan pas makan siang.. mending pas sesudah/sebelum makan siang  <– ini saran bodoh, kalo ga sebelum ya sesudah! #nulissendirimarahsendiri

Begitu sampai disini saya langsung pesan satu pecel lengkap dengan mi (optional kok) nah, disamping meja si mbok yang meracik pecel ada satu tempat yang isinya lauk-pauk yang dapat dipilih sebagai teman makan pecel. Jenis lauknya cukup banyak, dari telur dadar sampai sate ati ampela, ada semua. Saya pilih sate ati ampela plus tiga biji gorengan yang baru keluar dari penggorengan!

karena lupa alamat, jadi gambar tangan aja ya? :D

 

Bumbu pecelnya gurih, sayurnya tidak overcooked hanya saja mi gorengnya yang agak njomplang. Di tempat asal saya nasi pecel tidak disajikan dengan mi goreng, hanya pecel dan peyek kacang. Mungkin ini yang mengakibatkan rasa aneh di lidah saya. Gorengannya mantap! Masih panas, bakwannya tidak terlalu kering tidak terlalu lembek, tempe goreng tipis renyah, tahu isinya betul-betul diisi, bukan tahu kopong. Sate ati ampelanya porsi jumbo! Kira2 ada 3 pasang ati ampela di satu tusuk sate ini. :D

Makan siang ini diakhiri dengan es teh manis dan bubur sumsum. Saya pun akhirnya harus membayar “kerusakan” di meja makan ini. Ternyata, harganya sungguh mengejutkan! Satu porsi pecel, 3 gorengan, satu tusuk sate, es teh manis dan bubur sum sum sebagai pencuci mulut diganjar dengan Rp. 14.500!! luar biasa! Recommended!

Sate Maranggi – Purwakarta

Perjalanan dinas saya kali ini membawa saya ke salah satu bendungan yang cukup besar, Jatiluhur, Purwakarta. Kali ini selain mendapat kesempatan untuk menikmati track sepeda yang masih segar dan sangat mulus saya juga berkesempatan untuk  menikmati makanan khas yang ada di Purwakarta.

Sebelum saya berangkat, banyak rekomendasi dari kawan-kawan saya untuk mencoba Sate Maranggi, salah satu sate yang cukup terkenal di daerah Purwakarta. Maka, tak banyak pikir, sepulang bermain sepeda, saya pun mencoba untuk mencari keberadaan Sate Maranggi ini. Rumah makan ini sangat mudah untuk ditemui, terletak di Jalan Raya Cibungur, Purwakarta, rumah makan ini tepat ada di sebelah kanan jalan. Jadi kalau Anda menuju arah Jakarta, jangan masuk tol, gunakan jalur lama dari arah Bandung ke Jakarta dan selalu waspada sebelah kanan jalan Anda. Rumah makan ini juga sangat mudah ditemui dan sangat ramai.

Tanpa ba-bi-bu, pertanyaan standar pun terlontar, “Yang khas rumah makan sini apa mbak?”, Tanya saya ke si pelayan. Sate Kambing, Sate Sapi dan Sop Dengkul pun akhirnya jadi pilihan saya atas rekomendasi si Mbak. Tak sampai 15 menit, makanan saya sudah tersaji di meja makan. Yang pertama saya coba adalah Sop Dengkul, dan slluurrpp… luar biasa rasanya! Segar, gurih dan sagat nikmat (saya tidak menambahkan campuran apapun ke sop ini, dan saya menyarankan demikian) kikil dan tulang muda yang disajikan pun sangat empuk. Tak perlu usaha susah payah untuk mengunyah.

Cukup puas dengan Sop ini saya mencoba sate kambing—yang konon sangat enak—dan sekali lagi saya merasakan kesempurnaan. Selain daging kambing, sate ini juga menyematkan beberapa potong hati yang semakin meningkatkan rasa nikmat, dan sate ini tanpa lemak. What a meal! :)

Yang menarik dari sate ini adalah sambal yang disajikan telah dicampur dengan irisan tomat dan sedikit bumbu kacang, kecap akan disediakan di meja dan kita bisa dengan bebas mencampur bumbu ini. Jika Anda tidak terlalu suka pedas, saya sarankan tidak mencampur semua sambal dengan kecap. It’s very hot!

Tiba pada menu terakhir, saya agak pesimis dengan sate sapi yang disajikan, karena menurut saya agak susah mengolah sapi dengan potongan yang agak tebal dan dibakar. Kadang-kadang daging masih a lot atau kurang matang, tapi ternyata SALAH! Dagingnya empuk, bumbu sangat meresap dan tanpa lemak! Again I feel free to eat now… *liat perut buncit*

Tiba pada bagian yang kurang menyenangkan dari prosesi makan-minum ini: membayar. Untuk 15 sate sapi, 5 sate kambing, 1 porsi Sop Dengkul, 3 Teh panas dan 3 Nasi timbel, saya diganjar dengan nominal 57.000 rupiah!! Luar biasa murah!

Saya pun pulang dengan tersenyum puas dan mulai memikirkan kapan saya akan kembali ke tempat ini….

Bagaimana dengan Anda? Sudah pernah mencoba?

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 336 other followers

My Twitter!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 336 other followers