“Mau makan di restoran Padang, Bukan berarti harus ke Padang, Cukup ada di sini, Dekat kita sendiri”
Masih ingat lirik lagu di atas? Yup, lagu dengan judul Semua Ada Di Sini ini sempat ngetop di saat saya masih kecil, saya ingat sekali waktu itu yang menyanyikan adalah Enno Lerian. Ternyata bertahun-tahun kemudian lagu itu menjadi kenyataan.
***
Saya adalah seorang penikmat masakan yang berbahan dasar ikan. Nah, patin adalah salah satu ikan favorit saya. Selain teksturnya yang lembut, mirip lele, durinya yang tidak terlalu banyak dan mudah dipretelin jadi alasan saya memilih ikan ini jadi favorit.
Setiap kali saya ingin menikmati patin yang enak, saya harus menahan diri hingga dinas membawa saya ke bumi Kalimantan. Disini patinnya cukup besar dan tidak berasa lumpur. Namun beberapa saat lalu saya mendapatkan informasi bahwa ada satu RM yang menyajikan kuliner patin khas Kalimantan. Ndak pake lama, Jumat lalu akhirnya saya berhasil mencicipi ikan patin bakar khas Kalimantan di Jakarta.
RM Pondok Ikan Bakar Kalimantan ini terletak di daerah Cimanggis. Cara carinya gampang kok, keluar tol Cimanggis, cari golf Esmeralda, RM nya tidak jauh dari situ. Sajian yang khas disini adalah Ikan Patin Bakar Bambu dan Patin Pedas Manis.
Patin Bakar Bambu ini perlu 3 jam untuk proses memasaknya, nah ada baiknya Anda pesan dulu sebelum datang kesini. Patin ukuran besar disajikan di meja saya, kira-kira bisa untuk 4 orang—2 orang in may case, since we’re no human, we’re eating machine
—kira-kira 1,5 Kg. Patin ini disajikan masih beralaskan bambu. Cuil sedikit, icipin dan yumm! Rasanya pedas dan ada sedikit asamnya. Jika dipadupadankan dengan nasi panas plus sambal mangga muda, waduh… mertua lewat juga kagak berasa (kata orang Betawi!) patinnya empuk, lemak ikannya gurih banget, bumbunya nendang, saya rela mengeluarkan 100 ribu lebih hanya untuk satu menu ini.
Menu berikutnya, Patin Pedas Manis. Sop ikan ini sekilas mirip dengan sup tom yam khas Thailand, namun minus rasa asamnya. Kuahnya segar dengan rasa pedas dan manis yang kuat dan sedikit aroma rempah, namun entah kenapa daging ikan yang disajikan sedikit terasa kurang….. kurang banyak maksudnya!
Dicicipi tanpa nasi maupun tanpa nasi sup ikan ini terasa sangat nikmat, daging patin yang memang lembut tera mak telunyur menyusri tenggorokan. Rasanya kok ya ndak perlu dikunyah, tinggal telan aja.
RM. Ini recommended bagi Anda yang kangen patin khas Kalimantan. Yah ngga perlu jauh2 ke Kalimantan, cukup dengan sedikit pengormaban menmpuh jalur macet Cibubur dan voila! Patin Bakar khas Kalimantan! Selamat menikmati
Well, ini tulisan saya setelah beberapa lama absen dari dunia review-me review makanan. Maklum saya kan karyawan jadi nulis juga angot-angotan, kalo ga sibuk aja. Berhubung lagi banyak event jadi saya….. bentar, kenapa gw curhat ya?!
Ok, langsung aja. Setelah ribuan [LEBIH MODE: ACTIVATED] kali saya melewati tempat makan ini, akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk menikmati lezatnya Ikan Nila Pak Ugi!! Yay!!
Beberapa kawan di kantor sempat, dengan senang hati, memberikan testimony yang positif tentang tempat ini, ditambah dengan kondisi tempat yang selalu penuh sesak dengan pengunjung membuat saya makin penasaran dengan rasa yang disajikan.
Malam itu pun langsung saya belokkan vespa tua saya ke rumah makan Pak Ugi, kerang saus padang, ikan nila kering dan es teh tawar pun menjadi pilihan saya malam itu. Tak lama kemudia hadirlah sajian dewa tersebut, dan tak salah lagi! Semua enak!
Yang pertama, kerang saus padang yang disajikan cukup banyak, dan kualitas kerang yang cukup bagus—masih kenyal dan ga amis—namun ada catatan dari kerang saus padang ini, yakni too oily! Rasa pedas dan gurih yang pas sayangnya harus diimbangi dengan minyak yang cukup banyak. Sebetulnya saya sendiri bukan pecinta minyak goreng, tapi kalau Anda suka nyemil atau minum minyak goreng mungkin menu ini bisa jadi pilhan Anda.
Lepas dengan kerang saus padang, Ikan Nila kering menjadi sasaran berikutnya. Ukuran nila adalah sedang, digoreng kering dengan teman sambal dan sayur segar sebagai side dish. Potekan pertama dari ekor ikan nila ini begitu crunchy! Menyenangkan! Rasa gurih yang ada juga mampu membangkitkan selera makan.
Tak lama, saya cocol potekan daging ikan nila tersebut dengan sambal yang telah disediakan dan, YUUUMM!! Pedasnya pas! Sungguh nikmat! Keringat pun segera mengalir dari dahi ini menemani semakin menipisnya supply nasi di piring saya.
Alhamdullilah, prosesi ini pun ditebus dengan harga yang masuk akal. Uang Rp. 50.000 yang saya serahkan ke kasir dikembalikan dengan lembar sepuluh ribuan yang bisa untuk bayar parkir.
Btw, tempatnya cukup bersih ko meskipun di pinggir jalan (bukan warung tenda).
Place: Jl. Kelapa Gading Boulevard Blok FX 1 No.1, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, kalau dari arah MKG ada di sebelah kiri jalan. Sebelum apartemen. Selamat berkuliner!
Bagi anda pencinta kuliner pasti sudah tidak asing dengan nama Soto Tangkar Tanah Tinggi. Ya, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mencicipi soto legendaris ini.
Bagi anda yang belum tahu apa itu soto tangkar, Soto Tangkar adalah soto khas Betawi masih sepupu lah dengan Soto Betawi, hanya saja kuahnya lebih merah, dan memang ciri khas betawi (baca: jeroan, santan dan daging) masih lekat di soto ini. Konon soto tangkar, pada waktu Indonesia belum merdeka, hanya dinikmati oleh rakyat jelata karena berisi daging dan tulang sisa, namun seiring berjalannya waktu, Soto Tangkar telah dinikmati berbagai kalangan.
Ok, kembali ke Soto Tangkar Tanah Tinggi, pertama kali saya sampai di tempatnya hal pertama yang terlintas adalah, pasti sotonya enak sekali, karena tempatnya kecil, sumpek, panas, asap dimana-mana TAPI penuh! Akhirnya saya pesan chef specialty, soto tangkar campur dan sate sapi. Tak lama soto hadir dengan isi yang penuh dan sate datang ditemani saus kacang yang banyak, dan potongan daging yang cukup besar. Slluurpp… kuahnya gurih, bukan cuma gurih, ada satu rasa yang saya belum bsia ceritakan, karena saya juga kurang paham rasa apa, tapi yang pasti cukup menggoyang lidah ko!
Santan yang super kental dan jeroan yang banyak tidak lantas membuat soto ini jadi eneg, tapi sebaliknya, malah bikin napsu ngembat, kalau kata orang betawi. Jeroan empuk, kikil tidak terlalu lembek, nearly perfect. Mungkin ini efek mereka memakai bara kayu untuk masak bukan kompor gas. Beralih ke sate, potongan daging yang besar membuat sate yang disajikan sedikit alot, tapi masih dalam batas wajar lah karena masih bisa dikunyah dengan cukup baik. Bumbu kacang yang disertakan memang tidak diberikan terlalu banyak kecap, toh kita bisa tambah sendiri. Cukup okelah sate yang satu ini.
Sebenarnya disini juga ada sop kambing, saya sempat mencicipi sedikit—minta punya teman—tapi ko agak kurang ya? Mungkin sop kambing ini hanya menu tambahan jadi kurang dapat “perhatian”. Kalau mau mampir, saya sarankan jangan pas jam makan siang, karena seperti yang saya sebutkan tadi, panas, penuh sumpek… tapi tetep ko, tetep enak.
Price: 30.000-an untuk soto, nasi, perkedel, teh dan sate
Tempat: Jl. Tanah Tinggi III No. 54, Jakarta Pusat, masuk lewat Kelurahan Tanah Tinggi. Buka Jam 11:00-21:00
Siang ini, setelah sholat Jumat tepatnya (rejeki emang ga kemana
), saya mendapatkan kabar gembira. Teman saya ulang tahun dan akan traktir di Sop Ikan Batam. Dari pertama saya pindah ke Kelapa Gading, Sop Ikan Batam jadi salah satu restoran incaran saya. Terutama karena Sop Ikannya, meskipun restoran ini juga menawarkan banyak menu lainnya.

Selepas sholat Jumat pak supir kantor sudah menunggu di depan lobby dan kami pun menancap gas. Dengan jarak yang tak seberapa jauh—bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki—Sop Ikan Batam (SIB) ini terletak di ruko seberang Mall Of Indonesia. Kelihatan banget ko neon sign restoran ini.
Setiba di TKP, sup ikan pun sudah di depan meja lengkap dengan sepiring nasi putih, tapi sayang sup ini tidak disajikan panas, hanya hangat. Kalau dilihat dari tampilannya memang tidak terlalu beda dengan sup yang lain, hanya irisan daging ikan tenggiri yang cukup tebal dan kuah yang sedikit keruh yang jadi pembeda dengan sup lainnya.
Sesisip kuah sup ini terasa begitu asin, namun asin yang saya rasakan bukan asin garam, karena keheranan akhirnya saya mengaduk-aduk semangkuk sup itu, dan ternyata penyebabnya adalah potongan sayur asin (dari sayur asin yang biasa dimasak dengan ba-kut—babi—dan biasanya sayur asin ini dijual dalam kemasan plastik) yang dicampur di sup ini. Ahh luar biasa rasanya, serasa kembali ke Malang dan mencicipi masakan Mama.
Yang menarik adalah sayur asin yang biasa saya makan adalah sawi pahit, tapi kali ini sawi ini diganti dengan sawi putih, jadi warna yang ada adalah putih bersih bukannya hijau lumut sebagaimana sayur asin biasanya. Selain sayur asin mereka juga menambahkan tomat dan cabai rawit potong sebagai tambahan (optional). Namun sayang nampaknya mereka terlalu banyak mencampurkan sayur asin (atau salah olah) ke dalam kuah sehingga rasa asin yang disajikan terlalu asin, bahkan kuah kaldu tenggiri pun jadi kalah.
Ada tips unik dari supir kantor saya untuk mengatasi rasa asin ini, sisip beberapa sendok kuah beserta isinya, kunyah potongan cabai rawit dan segera makan dengan nasi. And it works! tapi akhirnya rasa asin diganti dengan mulut penuh tidak karuan dan rasa pedas yang menyakitkan. That’s why U’re the driver not the boss…
Untungnya rasa asin dari kuah ini bisa sedikit dibantu daging ikan tenggiri yang empuk. Irisan tebal daging ikan tenggiri ini serasa “lumer” di mulut. Sepertinya saya belum sempat mengunyah daging ini tapi sudah hancur duluan. Mungkin makanan ini cocok untuk nenek saya.
Overall, kalau anda suka sayur asin dan tidak bisa makan babi lagi, mungkin sop ini bisa jadi pengobat rindu anda.
Harga: unknown (ditraktir sih :p, tapi akan saya update ko.. tenang aja
)
Spit Your Words!