
Chicken Tandori

Ki-Ka Peking Duck - Roasted Lamb - Turkey

Dessert!

Soto Bogor
AKHIRNYA GW KE SATOO! hah! Eat that. Yeah i know i cudn’t be more norak than this. I know.
Thanks to makan malam closing dr company, akhirnya gw ke satoo. Karena over excited, gw sempet browsing2 dulu malemnya dan ga bisa tidur semaleman ngebayangin mau makan di Satoo. #taee
Jadi begitu sampe Satoo, gw langsung coba semua makanan yang recommended (setidaknya by Google). Ohya satoo ini all u can eat ya, jd ada baeknya perut dikuras dulu siang sebelumnya. *mentalanakkos*
Pertama dicoba, chicken tandori dari India Food Corner. Ambil sdikit chicken, some sort of tortilla chips dan nasi nya (gw ga tau nama nasinya tp panjang2). Nasinya agak tasteless sih. Masih mending nasi uduk bu Romlah samping kosan. Tortilla chips wannabenya berasa bgt teoungnya, gw sih ga suka. Tp bt elo yg doyan nyemil Bogasari, maybe you’ll like it.
Nah masuk ayamnya, meakipun kental dengan santan, rasanya sangat light. Cenderung ga berasa rempah (gw berharapnya sgt brasa rempahnya). Daging semua, fat free. Gw sih ga seberapa suka. Lbh prefer yg agak berlemak gitu..
Second round. Satu piring isinya: Peking Duck, Roasted Lamb dan Turkey. Peking duck dibungkus pake sejenis kukit lumpua basah tp agak tebel dg timun dan daun bawang didalemnya. Makannya pake Hoisi Sauce. Rasanya? All good except the lumpia skin. Again it tasted very floury! What’s wrong w/ u guys? Too much love flour will kill you. The duck is awesome the sauce is uberrrrr awesome!
But then i came to to roasted lamb and turkey. The lamb is good. But it smeels like wedhus. You know? Yes wedhus. I didn’t feel good w/ this. Turkey kalkunnya enak. Gw sempet minta yg paha dan si mbak nga kasih yg ada lemak plus kulitnya. Ih mbaknya pengertian bgt deh. Pacarin juga nih #eeaaa #OOT
Tapi untuk dua masakan terakhir saucenya agak berasa asing di lidah gue. Gw ga bilang ga enak, tp yg pasti gw ga kebiasa. U may try and say.
Next, gw coba selera nusantara. Sebenernya ada siomay, batagor, pecel, etc. Tp gw pilih soto bogor. Latar belakang pemilihan: uda (di)bayar(in) mahal masa makan daon? Please deh! Hipotesa awal: it’s gonna be aweasome. Satoo dan soto bogor.
Dan… it turna out that i have a very good gut feeling! It tasted awesome! It’s light yet rich. Gw bisa rasain rempahnya, santennya dan gurih jeroannya. Man.. juara! Kl ga inget kolesterol gw uda bungkus bakal sarapan di kos tuh..
Nah ini penutup oops mksud gue pencuci mulut. Strawberry chocolate fondue dan Brandy Sauce. Strawberrynya, asu tenan! Uenak… begitu gw icipin, gw berasa lagi dibawah fondue nya dan berlari2 kecil di bawah siraman coklat strawberry lho! #lebay
Gw makan pake marshmallow, gummy bear candy dan freah strawberry. Enaaakk banget. Coklatnya ga bikin eneg.
iseng gw tambahin Brandy Saucenya. Enak sih tp alkoholnya brasa bgt..
Nah itu pngalaman gw di Satoo – Shangrilla. Kl pengalaman lo? Share dong!
Bagi anda pencinta kuliner pasti sudah tidak asing dengan nama Soto Tangkar Tanah Tinggi. Ya, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mencicipi soto legendaris ini.
Bagi anda yang belum tahu apa itu soto tangkar, Soto Tangkar adalah soto khas Betawi masih sepupu lah dengan Soto Betawi, hanya saja kuahnya lebih merah, dan memang ciri khas betawi (baca: jeroan, santan dan daging) masih lekat di soto ini. Konon soto tangkar, pada waktu Indonesia belum merdeka, hanya dinikmati oleh rakyat jelata karena berisi daging dan tulang sisa, namun seiring berjalannya waktu, Soto Tangkar telah dinikmati berbagai kalangan.
Ok, kembali ke Soto Tangkar Tanah Tinggi, pertama kali saya sampai di tempatnya hal pertama yang terlintas adalah, pasti sotonya enak sekali, karena tempatnya kecil, sumpek, panas, asap dimana-mana TAPI penuh! Akhirnya saya pesan chef specialty, soto tangkar campur dan sate sapi. Tak lama soto hadir dengan isi yang penuh dan sate datang ditemani saus kacang yang banyak, dan potongan daging yang cukup besar. Slluurpp… kuahnya gurih, bukan cuma gurih, ada satu rasa yang saya belum bsia ceritakan, karena saya juga kurang paham rasa apa, tapi yang pasti cukup menggoyang lidah ko!
Santan yang super kental dan jeroan yang banyak tidak lantas membuat soto ini jadi eneg, tapi sebaliknya, malah bikin napsu ngembat, kalau kata orang betawi. Jeroan empuk, kikil tidak terlalu lembek, nearly perfect. Mungkin ini efek mereka memakai bara kayu untuk masak bukan kompor gas. Beralih ke sate, potongan daging yang besar membuat sate yang disajikan sedikit alot, tapi masih dalam batas wajar lah karena masih bisa dikunyah dengan cukup baik. Bumbu kacang yang disertakan memang tidak diberikan terlalu banyak kecap, toh kita bisa tambah sendiri. Cukup okelah sate yang satu ini.
Sebenarnya disini juga ada sop kambing, saya sempat mencicipi sedikit—minta punya teman—tapi ko agak kurang ya? Mungkin sop kambing ini hanya menu tambahan jadi kurang dapat “perhatian”. Kalau mau mampir, saya sarankan jangan pas jam makan siang, karena seperti yang saya sebutkan tadi, panas, penuh sumpek… tapi tetep ko, tetep enak.
Price: 30.000-an untuk soto, nasi, perkedel, teh dan sate
Tempat: Jl. Tanah Tinggi III No. 54, Jakarta Pusat, masuk lewat Kelurahan Tanah Tinggi. Buka Jam 11:00-21:00
Awal pertemuan saya dengan mi tarik terjadi di food court Plaza Senayan, saya lupa nama restonya apa. Namun pada waktu itu pembuatan mi yang sekaligus jadi atraksi itu menarik perhatian saya. Namun sayang waktu itu saya belum sempat mencicipi mi tarik tersebut. Beberapa tahun kemudian saya kembali mendapatkan kesempatan yang sama, dengan resto dan tempat yang berbeda.
Mi tarik yang saya coba kali ini, adalah mi tarik Laiker di food court Mall Kelapa Gading, saya lupa Kelapa Gading berapa (di samping Sushi Box).
Mi tarik yang ditawarkan resto ini adalah kumpulan mi tarik “modfikasi”. Ada yang a la Italia, Mi tarik kangkung, dan mi modif lainnya. Saya sendiri akhirnya memesan mi tarik kangkung karena chef recommended di sini adalah mi tarik kangkung.
Semangkuk besar mi tarik kangkung pun akhirnya menjadi santapan saya. Ada beberapa catatan minus, pertama, mi yang disajikan kurang matang. Mungkin mereka ingin mempertahankan rasa kenyal, namun yang ada malah jadi kurang matang. Kedua, kuah yang disajikan merupakan campuran rasa manis, pedas dan gurih. Tapi sayang ada rasa yang menyengat, mungkin dari minyak—entah minyak apa—yang dicampurkan. Aroma minyak yang terlalu menyengat ini jadi mengurangi kenikmatan bumbu lainnya yang sudah pas.

Daging ayam yang disajikan dan kangkung juga terlalu minim, padahal namanya mi tarik kangkung, namun apa daya, karena makanan sudah dibayar dan lapar, akhirnya saya santap seporsi mi tarik itu dengan nelangsa…. Toh akhirnya hanya habis setengah mangkuk juga karena eneg dengan aroma minyak yang overwhelmed tadi.
Price: 24K
Siang ini, setelah sholat Jumat tepatnya (rejeki emang ga kemana
), saya mendapatkan kabar gembira. Teman saya ulang tahun dan akan traktir di Sop Ikan Batam. Dari pertama saya pindah ke Kelapa Gading, Sop Ikan Batam jadi salah satu restoran incaran saya. Terutama karena Sop Ikannya, meskipun restoran ini juga menawarkan banyak menu lainnya.

Selepas sholat Jumat pak supir kantor sudah menunggu di depan lobby dan kami pun menancap gas. Dengan jarak yang tak seberapa jauh—bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki—Sop Ikan Batam (SIB) ini terletak di ruko seberang Mall Of Indonesia. Kelihatan banget ko neon sign restoran ini.
Setiba di TKP, sup ikan pun sudah di depan meja lengkap dengan sepiring nasi putih, tapi sayang sup ini tidak disajikan panas, hanya hangat. Kalau dilihat dari tampilannya memang tidak terlalu beda dengan sup yang lain, hanya irisan daging ikan tenggiri yang cukup tebal dan kuah yang sedikit keruh yang jadi pembeda dengan sup lainnya.
Sesisip kuah sup ini terasa begitu asin, namun asin yang saya rasakan bukan asin garam, karena keheranan akhirnya saya mengaduk-aduk semangkuk sup itu, dan ternyata penyebabnya adalah potongan sayur asin (dari sayur asin yang biasa dimasak dengan ba-kut—babi—dan biasanya sayur asin ini dijual dalam kemasan plastik) yang dicampur di sup ini. Ahh luar biasa rasanya, serasa kembali ke Malang dan mencicipi masakan Mama.
Yang menarik adalah sayur asin yang biasa saya makan adalah sawi pahit, tapi kali ini sawi ini diganti dengan sawi putih, jadi warna yang ada adalah putih bersih bukannya hijau lumut sebagaimana sayur asin biasanya. Selain sayur asin mereka juga menambahkan tomat dan cabai rawit potong sebagai tambahan (optional). Namun sayang nampaknya mereka terlalu banyak mencampurkan sayur asin (atau salah olah) ke dalam kuah sehingga rasa asin yang disajikan terlalu asin, bahkan kuah kaldu tenggiri pun jadi kalah.
Ada tips unik dari supir kantor saya untuk mengatasi rasa asin ini, sisip beberapa sendok kuah beserta isinya, kunyah potongan cabai rawit dan segera makan dengan nasi. And it works! tapi akhirnya rasa asin diganti dengan mulut penuh tidak karuan dan rasa pedas yang menyakitkan. That’s why U’re the driver not the boss…
Untungnya rasa asin dari kuah ini bisa sedikit dibantu daging ikan tenggiri yang empuk. Irisan tebal daging ikan tenggiri ini serasa “lumer” di mulut. Sepertinya saya belum sempat mengunyah daging ini tapi sudah hancur duluan. Mungkin makanan ini cocok untuk nenek saya.
Overall, kalau anda suka sayur asin dan tidak bisa makan babi lagi, mungkin sop ini bisa jadi pengobat rindu anda.
Harga: unknown (ditraktir sih :p, tapi akan saya update ko.. tenang aja
)
Spit Your Words!