//
archives

makanan

This tag is associated with 8 posts

Tahu Telor cap Ngalam

image

Ini kesekian kalinya gw nyampe malang tp pertama kalinya setelah puluhan mudik gw nyobain Tahu Telor abang2 yang biasa lewat depan rumah. Pertama denger tek..tek..tek… hanya dengan berbekal kolor dan singlet gw lari keluar buat nyetop si Abang.

Tahu telor udah dipesen, kolor uda ditutup sarung, kluar lah gw buat merhatiin cara bikinnya. Tahu digoreng 1/2 mateng, masukkin ke mangkok, tuang telor, kocok lepas, goreng potong2, sisihkan.

Nah pas bumbu ternyata simple. Kacang halus, cabe yg uda direbus, sama cairan warna coklat muda kaya air asem jawa. Pas gw tanya air apaan, si Abang dengan pongahnya ngejawa “wah bumbu rahasia mas. Ini uda turun temurun” belagu banget nih abang *jitak si abang pake penggorengan*

Bumbu jadi, tuang di atas tahu telor, taburi toge yang uda disiram air panas biar agak layu. Taburi daun bawang dan peterselli, bawang yoreng. Kasih acar timun. Bayar 7.000 perak.

Rasanya? Ga berubah sejak gw masih SD! Gilak. Nih abangkonsisten bgt bumbunya.

Makanan dinikmati di Malang pukul 21.30 WIB suhu udara 25-27 derajat celcius.

Nasi Pecel Kemayoran

Jika Anda bertandang ke Kediri pasti Anda akan menjumpai Nasi Pecel, makanan khas kota Kediri. Saya sendiri sebenarnya penikmat makanan yang dominan sayur, nah, pecel ini akhirnya menjadi makanan paling dicari kalau saya main ke daerah Kediri atau ke Malang (fyi, Malang juga punya pecel yang cukup enak lho!).

Jujur, di Jakarta saya belum sempat menemukan tempat makan pecel yang cukup enak, sampai pada satu hari saya jalan-jalan ke daerah Kemayoran dan voila! Saya menemukan tempat makan pecel yang cukup enak.

Yum Yum!

Warung pecel ini agak terpencil (see map) tapi ramenya, masyaallah! Sampe rebutan tempat duduk! Jadi saran saya kalau kesini jangan pas makan siang.. mending pas sesudah/sebelum makan siang  <– ini saran bodoh, kalo ga sebelum ya sesudah! #nulissendirimarahsendiri

Begitu sampai disini saya langsung pesan satu pecel lengkap dengan mi (optional kok) nah, disamping meja si mbok yang meracik pecel ada satu tempat yang isinya lauk-pauk yang dapat dipilih sebagai teman makan pecel. Jenis lauknya cukup banyak, dari telur dadar sampai sate ati ampela, ada semua. Saya pilih sate ati ampela plus tiga biji gorengan yang baru keluar dari penggorengan!

karena lupa alamat, jadi gambar tangan aja ya? :D

 

Bumbu pecelnya gurih, sayurnya tidak overcooked hanya saja mi gorengnya yang agak njomplang. Di tempat asal saya nasi pecel tidak disajikan dengan mi goreng, hanya pecel dan peyek kacang. Mungkin ini yang mengakibatkan rasa aneh di lidah saya. Gorengannya mantap! Masih panas, bakwannya tidak terlalu kering tidak terlalu lembek, tempe goreng tipis renyah, tahu isinya betul-betul diisi, bukan tahu kopong. Sate ati ampelanya porsi jumbo! Kira2 ada 3 pasang ati ampela di satu tusuk sate ini. :D

Makan siang ini diakhiri dengan es teh manis dan bubur sumsum. Saya pun akhirnya harus membayar “kerusakan” di meja makan ini. Ternyata, harganya sungguh mengejutkan! Satu porsi pecel, 3 gorengan, satu tusuk sate, es teh manis dan bubur sum sum sebagai pencuci mulut diganjar dengan Rp. 14.500!! luar biasa! Recommended!

Jalan-Jalan, Makan-Makan, Jakarta-Batavia!

Siapa bilang liburan harus ke luar kota, menghabiskan jutaan rupiah untuk tiket dan akomodasi? Jakarta sebetulnya memiliki berbagai macam tujuan wisata yang cukup menarik. Dari wisata belanja, budaya, sejarah hingga wisata kuliner. Nah, kali ini kita akan menyusuri wisata kuliner di kawasan Jakarta Pusat.

Pusat hingar-bingar kota Jakarta ini memiliki segala macam makanan, baik dari kelas bintang lima hingga kaki lima. Perjalanan kuliner kita dimulai dari kawasan Pasar Baru yang sudah berdiri sejak jaman Belanda. Di pasar ini banyak ditawarkan makanan pinggiran, seperti siomay, tahu gejrot, batagor, dll. Namun jika Anda penikmat makanan Cina, silahkan coba Bakmi Gang Kelinci. Coba pesan Bakmi Spesial Gang Kelinci, ini adalah salah satu makanan yang cukup direkomendasikan di rumah makan ini.

Tak jauh dari RM Gang Kelinci—masih di kawasan Pasar Baru—ada penjual es kelapa muda yang bertengger di pertigaan gang utama Pasar Baru. Sang penjual akan dengan senang hati membantu Anda menggelontorkan sisa Bakmi Gang Kelinci dengan segelas es kelapa muda yang segar! Tentunya dengan ganjaran sebesar 3.000 rupiah. Sebagai makanan kecil, Anda tentu dapat mencoba Tahu Gejrot yang banyak dijajakan di depan toko-toko tekstil di Pasar Baru. Tahu Gejrot pasar baru ini memiliki kuah yang khas, segar, pedas sedikit manis dan asam. Amboy…

Sebagai penutup mulut Anda bisa bertandang ke Es Krim Ragusa, depot es krim yang diklaim telah berdiri sejak 1930an ini menyediakan berbagai macam varian es krim yang nikmat. Dari rum raisin hingga tutti frutti. Favorit penulis adalah Rum Raisin Chocolate Ice Cream. Es krim ini menawarkan rasa rum yang cukup kuat dengan taburan kismis yang kenyal dan es krim yang lembut.. luar biasa! Satu porsi es krim dapat ditebus dengan kisaran harga Rp. 20.000an. Sembari menikmati es krim ini Anda tentu dapat memesan berbagai macam makanan ringan yang dijajakan di depan depot es krim ini. Sate Ayam, Asinan, Rujak Juhi dan Otak-Otak. Harga yang ditawarkan juga terbilang murah, dari kisaran Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000.

Lembaran Rp. 100.000 di dompet pun saya yakin akan cukup untuk membiayai wisata kuliner ini, dari awal hingga akhir. Jadi, siapa bilang Jakarta tidak punya tujuan wisata murah?

 

Tahu Campur Suroboyo – Apartemen Kelapa Gading

Pernah ke Surabaya? jika pernah, ada beberapa makanan yang patut dicoba. Selain nikmatnya lontong balap, rujak cingur dan tahu campur layaknya menjadi menu wajib bagi Anda yang ingin bertandang ke kota Pahlawan ini.

Kali ini saya berkesempatan mencicipi nikmatnya tahu campur setelah berbulan-bulan tidak merasakan nikmatnya petis udang.. :)

Tahu campur, sebetulnya khas Lamongan, merupakan sebuah campuran dari tahu, sayur, kikil dan daging-daging jeroan dan tentunya yang khas, petis udang.

Kali ini saya tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya untuk mencoba makanan ini. Kebetulan saya tinggal di daerah Kelapa Gading dan ternyata saya menemukan sebuah warung yang menjajakan tahu campur, tahu bumbu dan rujak cingur tak jauh dari rumah saya. Warung ni terletak di pujasera Apartemen Kelapa Gading, tepat di depan Kelapa Gading Club.

Dengan satu lembar uang 10.000 rupiah saya berhasil menebus sepiring tahu campur khas Suroboyo ini. Porsi yang ditawarkan, menurut saya, pas sesuai dengan jenis makanannya. Sebagai info, jika kita makan tahu campur dengan porsi yang tidak pas–terlalu sedikit/terlalu banya–maka kita tidak akan bisa menikmati lezatnya petis yang ada.

Selain porsi yang pas, jeroan yang disajikan pun cukup banyak, jadi ndak rugi lah kalau ditawarkan dengan harga 10.000 rupiah.

Dengan uap yang mengepul, saya pun langsung menyeruput kuah ttahu campur ini, dan yuumm!! luar biasa! sungguh nikmat, saya serasa berada di kampung halaman sembari menikmati tahu campur bersama keluarga saya. [Lebih Mode: ON] Seriously, it tasted great!

Gurih petis udang yang terasa nyata sangat nikmat, meskipun gatal terasa di tenggorokan saya karena saya alergi udang, but for heaven’s sake, rasa gatal ini terbalaskan dengan nikmatnya masakan ini,

Selain kuah yang nikmat dan jeroan yang empuk, toge dan sayur yang disajikan pun masih segar. Kriuss-kriuss kalau orang jawa bilang. Sayur tidak layu dan tekstur sayur masih sangat nyata terasa di gigi ini.

secara keseluruhan, tahu campur ini sangat direkomendasikan! apa lagi hanya dengan 10.000 rupiah, economic value dari masakan ini hampir mendekati sempurna. jika kerupuk yang diberikan cukup banyak. :p

Anda punya rekomendasi tahu campur lain? silahkan berbagi! :)

PS:

Tambah satu porsi kerupuk = Rp. 2.000

Nasi Campur khas Bali

Pekerjaan saya miliki saat ini mewajibkan saya untuk melakukan perjalanan keliling Indonesia, saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan ini karena saya akan menemui makanan khas dari seluruh pelosok Indonesia. What a job :)

Kali ini saya harus mengunjungi Bali, namun kali ini saya berada di Seminyak, bukan di Kuta seperti beberapa saat lalu.

Di tempat ini saya pun kembali mencoba makanan khas daerah sekitar, usut punya usut sebenarnya yang cukup enak di sini adalah Babi Panggang, namun karena konsumsi daging babi dilarang di agama saya maka saya pun mencoba makanan lain. Pilihan akhirnya jatuh ke nasi campur. Pada kunjungan saya kali ini saya mencoba dua nasi campur yakni Warung Made dan RM Wardhani.

Warung Made ini dikunjungi begitu banyak wisatawan asing yang ingin mencoba makanan khas Bali, tempat yang disajikan pun sangat nyaman, dilengkapi dengan taman, butik bahkan Periplus! Luar biasa! Setelah saya tiba di Warung Made, tak lama saya mencoba nasi campur spesial seharga 55.000 rupiah. Tak lama porsi jumbo pun terhidang di meja saya.

Nasi campur ini sebenarnya nasi yang ditambahkan berbagai macam lauk, seperti nasi rames. Nasi campur warung made ini diikuti oleh beberapa lauk, a.l. udang goreng, telur, daging sapi, ayam, sayuran, dan beberapa lauk lainnya.

Setelah saya cicipi, rasa yang disajjikan tidak seberapa nikmat, malah terasa hambar. Namun sambal yang disajikan sangat pedas. Saya sendiri tidak merekomendasikan menu ini di Warung Made.

Keesokan harinya saya mencari nasi campur yang lebih enak lagi, maka perjalanan saya ini membawa saya ke RM Wardhani, tempatnya sendiri saya tidak tahu, yang pasti njelimet dan saya menyerahkan nasib saya ke supir yang mengantarkan saya. :P

Nasi campur akhirnya kembali terhidang dengan lauk yang tak seberapa beda. Awalnya saya pesimis, karena bentuk yang sama saya pikir rasanya juga akan sama. Namun salah besar, rasa yang dikeluarkan dari lauk yang ada sangat keras dan sangat beragam dari satu lauk ke lauk yang lain. Luar biasa. Sambal yang disajikan pun tidak lah terlalu pedas, sangat pas! Ditemani denga kerupuk dari biota laut yang saya bahkan tidak tahu nama dan bentuknya nasi campur ioni pun terasa lebih nikmat. Saya pun bisa pulang dengan rasa tenang karena telah mendapatkan apa yang saya inginkan.

Jika Anda telah sampai di Bali, coba tanya ke orang sekitar dimana RM Wardhani di daerah Seminyak, mungkin mereka paham. Jangan lupa catat arah perjalanan Anda agar Anda bisa kembali lagi kesana! Jangan ulangi kesalah yang sama, layakanya yang telah saya lakukan. :)

Anda ada pilihan lain untuk nasi campur? Berbagilah di sini…

 

PS:

ini tips yang bisa saya share, mungkin membantu mungkin tidak, namun kalau Anda ingin cari makanan  di Bali, coba cari warung dengan wisatawan asing yang tak banyak. Kenapa? pertama lebih murah, kedua bumbu yang disajikan juga lebih ‘berani’ karena lidah para wisatawan asing berbeda dengan kita yang biasa makan dengan rempah-rempah yang sangat ‘berasa’. Hope it helps. :)

Sate Maranggi – Purwakarta

Perjalanan dinas saya kali ini membawa saya ke salah satu bendungan yang cukup besar, Jatiluhur, Purwakarta. Kali ini selain mendapat kesempatan untuk menikmati track sepeda yang masih segar dan sangat mulus saya juga berkesempatan untuk  menikmati makanan khas yang ada di Purwakarta.

Sebelum saya berangkat, banyak rekomendasi dari kawan-kawan saya untuk mencoba Sate Maranggi, salah satu sate yang cukup terkenal di daerah Purwakarta. Maka, tak banyak pikir, sepulang bermain sepeda, saya pun mencoba untuk mencari keberadaan Sate Maranggi ini. Rumah makan ini sangat mudah untuk ditemui, terletak di Jalan Raya Cibungur, Purwakarta, rumah makan ini tepat ada di sebelah kanan jalan. Jadi kalau Anda menuju arah Jakarta, jangan masuk tol, gunakan jalur lama dari arah Bandung ke Jakarta dan selalu waspada sebelah kanan jalan Anda. Rumah makan ini juga sangat mudah ditemui dan sangat ramai.

Tanpa ba-bi-bu, pertanyaan standar pun terlontar, “Yang khas rumah makan sini apa mbak?”, Tanya saya ke si pelayan. Sate Kambing, Sate Sapi dan Sop Dengkul pun akhirnya jadi pilihan saya atas rekomendasi si Mbak. Tak sampai 15 menit, makanan saya sudah tersaji di meja makan. Yang pertama saya coba adalah Sop Dengkul, dan slluurrpp… luar biasa rasanya! Segar, gurih dan sagat nikmat (saya tidak menambahkan campuran apapun ke sop ini, dan saya menyarankan demikian) kikil dan tulang muda yang disajikan pun sangat empuk. Tak perlu usaha susah payah untuk mengunyah.

Cukup puas dengan Sop ini saya mencoba sate kambing—yang konon sangat enak—dan sekali lagi saya merasakan kesempurnaan. Selain daging kambing, sate ini juga menyematkan beberapa potong hati yang semakin meningkatkan rasa nikmat, dan sate ini tanpa lemak. What a meal! :)

Yang menarik dari sate ini adalah sambal yang disajikan telah dicampur dengan irisan tomat dan sedikit bumbu kacang, kecap akan disediakan di meja dan kita bisa dengan bebas mencampur bumbu ini. Jika Anda tidak terlalu suka pedas, saya sarankan tidak mencampur semua sambal dengan kecap. It’s very hot!

Tiba pada menu terakhir, saya agak pesimis dengan sate sapi yang disajikan, karena menurut saya agak susah mengolah sapi dengan potongan yang agak tebal dan dibakar. Kadang-kadang daging masih a lot atau kurang matang, tapi ternyata SALAH! Dagingnya empuk, bumbu sangat meresap dan tanpa lemak! Again I feel free to eat now… *liat perut buncit*

Tiba pada bagian yang kurang menyenangkan dari prosesi makan-minum ini: membayar. Untuk 15 sate sapi, 5 sate kambing, 1 porsi Sop Dengkul, 3 Teh panas dan 3 Nasi timbel, saya diganjar dengan nominal 57.000 rupiah!! Luar biasa murah!

Saya pun pulang dengan tersenyum puas dan mulai memikirkan kapan saya akan kembali ke tempat ini….

Bagaimana dengan Anda? Sudah pernah mencoba?

Soto Tangkar Tanah Tinggi

Bagi anda pencinta kuliner pasti sudah tidak asing dengan nama Soto Tangkar Tanah Tinggi. Ya, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mencicipi soto legendaris ini.

Bagi anda yang belum tahu apa itu soto tangkar, Soto Tangkar adalah soto khas Betawi masih sepupu lah dengan Soto Betawi, hanya saja kuahnya lebih merah, dan memang ciri khas betawi (baca: jeroan, santan dan daging) masih lekat di soto ini. Konon soto tangkar, pada waktu Indonesia belum merdeka, hanya dinikmati oleh rakyat jelata karena berisi daging dan tulang sisa, namun seiring berjalannya waktu, Soto Tangkar telah dinikmati berbagai kalangan.

Ok, kembali ke Soto Tangkar Tanah Tinggi, pertama kali saya sampai di tempatnya hal pertama yang terlintas adalah, pasti sotonya enak sekali, karena tempatnya kecil, sumpek, panas, asap dimana-mana TAPI penuh! Akhirnya saya pesan chef specialty, soto tangkar campur dan sate sapi. Tak lama soto hadir dengan isi yang penuh dan sate datang ditemani saus kacang yang banyak, dan potongan daging yang cukup besar. Slluurpp… kuahnya gurih, bukan cuma gurih, ada satu rasa yang saya belum bsia ceritakan, karena saya juga kurang paham rasa apa, tapi yang pasti cukup menggoyang lidah ko! :)

Santan yang super kental dan jeroan yang banyak tidak lantas membuat soto ini jadi eneg, tapi sebaliknya, malah bikin napsu ngembat, kalau kata orang betawi. Jeroan empuk, kikil tidak terlalu lembek, nearly perfect. Mungkin ini efek mereka memakai bara kayu untuk masak bukan kompor gas. Beralih ke sate, potongan daging yang besar membuat sate yang disajikan sedikit alot, tapi masih dalam batas wajar lah karena masih bisa dikunyah dengan cukup baik. Bumbu kacang yang disertakan memang tidak diberikan terlalu banyak kecap, toh kita bisa tambah sendiri. Cukup okelah sate yang satu ini.

Sebenarnya disini juga ada sop kambing, saya sempat mencicipi sedikit—minta punya teman—tapi ko agak kurang ya? Mungkin sop kambing ini hanya menu tambahan jadi kurang dapat “perhatian”. Kalau mau mampir, saya sarankan jangan pas jam makan siang, karena seperti yang saya sebutkan tadi, panas, penuh sumpek… tapi tetep ko, tetep enak. :)

Price: 30.000-an untuk soto, nasi, perkedel, teh dan sate

Tempat: Jl. Tanah Tinggi III No. 54, Jakarta Pusat, masuk lewat Kelurahan Tanah Tinggi. Buka Jam 11:00-21:00

“Medan Perang” yang masih tradisional

Sop Ikan Batam

Siang ini, setelah sholat Jumat tepatnya (rejeki emang ga kemana :) ), saya mendapatkan kabar gembira. Teman saya ulang tahun dan akan traktir di Sop Ikan Batam. Dari pertama saya pindah ke Kelapa Gading, Sop Ikan Batam jadi salah satu restoran incaran saya. Terutama karena Sop Ikannya, meskipun restoran ini juga menawarkan banyak menu lainnya.


Selepas sholat Jumat pak supir kantor sudah menunggu di depan lobby dan kami pun menancap gas. Dengan jarak yang tak seberapa jauh—bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki—Sop Ikan Batam (SIB) ini terletak di ruko seberang Mall Of Indonesia. Kelihatan banget ko neon sign restoran ini.

Setiba di TKP, sup ikan pun sudah di depan meja lengkap dengan sepiring nasi putih, tapi sayang sup ini tidak disajikan panas, hanya hangat. Kalau dilihat dari tampilannya memang tidak terlalu beda dengan sup yang lain, hanya irisan daging ikan tenggiri yang cukup tebal dan kuah yang sedikit keruh yang jadi pembeda dengan sup lainnya.
Sesisip kuah sup ini terasa begitu asin, namun asin yang saya rasakan bukan asin garam, karena keheranan akhirnya saya mengaduk-aduk semangkuk sup itu, dan ternyata penyebabnya adalah potongan sayur asin (dari sayur asin yang biasa dimasak dengan ba-kut—babi—dan biasanya sayur asin ini dijual dalam kemasan plastik) yang dicampur di sup ini. Ahh luar biasa rasanya, serasa kembali ke Malang dan mencicipi masakan Mama.
Yang menarik adalah sayur asin yang biasa saya makan adalah sawi pahit, tapi kali ini sawi ini diganti dengan sawi putih, jadi warna yang ada adalah putih bersih bukannya hijau lumut sebagaimana sayur asin biasanya. Selain sayur asin mereka juga menambahkan tomat dan cabai rawit potong sebagai tambahan (optional). Namun sayang nampaknya mereka terlalu banyak mencampurkan sayur asin (atau salah olah) ke dalam kuah sehingga rasa asin yang disajikan terlalu asin, bahkan kuah kaldu tenggiri pun jadi kalah.

Ada tips unik dari supir kantor saya untuk mengatasi rasa asin ini, sisip beberapa sendok kuah beserta isinya, kunyah potongan cabai rawit dan segera makan dengan nasi. And it works! tapi akhirnya rasa asin diganti dengan mulut penuh tidak karuan dan rasa pedas yang menyakitkan. That’s why U’re the driver not the boss… :)
Untungnya rasa asin dari kuah ini bisa sedikit dibantu daging ikan tenggiri yang empuk. Irisan tebal daging ikan tenggiri ini serasa “lumer” di mulut. Sepertinya saya belum sempat mengunyah daging ini tapi sudah hancur duluan. Mungkin makanan ini cocok untuk nenek saya.
Overall, kalau anda suka sayur asin dan tidak bisa makan babi lagi, mungkin sop ini bisa jadi pengobat rindu anda. :)

Harga: unknown (ditraktir sih :p, tapi akan saya update ko.. tenang aja :) )

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 336 other followers

My Twitter!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 336 other followers