//
archives

kuliner

This tag is associated with 6 posts

Jelajah Serambi Mekah

image

Mie Aceh khas.... Aceh

image

Ini Ule Kareeng, Segini cuma 15K

Mumpung sempet, akhirnya gw samperin juga nih serambi Mekah. Sapa tahu besok2 gw segera naik haji, amin sodara2? Amiinn….

Nah ya, karena uda di Aceh ada baiknya kita sekaliah jelajah rasa. Dari mulai kopi (ya iyalah!) Sampe makanan khasnya. Enuf wif mie Aceh! I want sumthin’ else. You’d better get me one then..

Tapi ya, karena gw tamu akhirnya gw nurut ama tuan rumah. Begitu landing gw uda nyerocos soal kopi aceh, nah setelah browsing kanan-kiri dapetlah gw kopi yg khas. Ulee Kareng namanya. Entah nama Ulee Kareng ini asalnya dari mana..  Dari sini guys..

Setelah mengendarai mobil kududuk di muka, di samping pak supir yang mengendali mobil supaya baik jalannya, pak supir berhenti di satu cafe (baca:warung) namanya Solong. Disini si supir dengan semena2 pesen kopi Ulee Kareng, Mie Kuah dan Telur. Fyi ini masih skitar jam 10/11 pagi. Jadi kl gw menggendut ini bukan salah gw! Salahin pak supir!

Kopinya encer, mungkin krn grinding level yg msh agak coarse dan brewing methode nya pk (secara teoritis sama dengan) paper filter brewing + coffee dip. Jd encer, ga pekat, tp cita rasanya tetep strong meskipun gak over brew.

Nah kalo mie nya ya standar mi Acrh sih cuma ini ekstra telur goreng dan telur setengah mateng aja. Rasanya pedes, panas, dan mie nya kenyal ga over cooked. Tekniknya jago lha. Tapi kalo rasa gw sih prefer mie aceh yg ada di Jakarta, lebih brasa gitu kayanya.. coba pake rumput aceh pasti lebih yahud! :D

Ah, nanti awak update lah petualangan awak di Aceh. Macam mana ini di tengah hutan malah mengarang bebas macam gini. Pening lah kepala awak ni…

Aceh,
14 Desember 2011

Teuku Umar Didin

Kopi Jagung Sidomukti – Malang

image

Kopi Jagung Sidomukti - Malang

image

Proses Grinding Kopi

Gw minum kopi sejak kelas 2 SD. And i’m proud of it! Awal bgt gw minum kopi punya eyang kakung dan eyang uti pake sendok, lama2 krn makin lama makin demanding, gw secara official dapet gelas sendiri dan tiap pagi dimulailah kebiasaan gw minumnkopi, instead of minum susu like what normal kids do.

Semenjak itu gw tumbuh dengan kopi. Namun di usia gw yang hampir kepala tiga ini gw ga pernah lipa rasa kopi khas punya Yang Kung dan Yang Ti. Rasanya spesial. It reminds me the warmness of family, the bright early sun in the morning. The l.o.v.e

Nah usut punya usut, ternyata kopi yg eyang gw minum adalah kopi jagung, which agak susah nyari di Jakarta. Nah pas kepulangan gw ke malang kali ini ketemu lah gw sumber rahasia kenikmatan kopi jagung ini. Namanya tokonya Toko Kopi Sidomukti. Di samping perempatan Trend arah ke Pasar Besar Malang. Kliatan plang nya dan kliatan tua nya.

Nah begitu gw masuk dia mainly (90%) jual kopi, selain bubuk jagung, bubuk beras, dan kacang ijo. Sediit sirup dan kecap merek old schoool. Ko jadi kaya #stockopname

Nah, pokoknya akhirnya gw pesen kopi jagung ini. Kalo beli disini masih fresh jadi dari biji dan di grind langsung depan mata. Kopi disini dibagi beberapa level (emang keripik doang yg bs pk level) istimewa, 1, 1b, 2, dan 3. Perbedaannya hanya dari ratio campuran jagungnya aja. Semakin besar angka semakin besar campuran jagungnya. Each gw beli se ons. It costs me Rp. 18K for those packages.

Langsung coba level 3. Kl dr kopinya berasa bgt kopi robusta. Pahit dan sedikit enteng. Krn uda ada campuran jagung rasanya uda agak manis, jd kl mau kasih gula mending dikit2 dulu. Daripada kemanisan.

Kl level 1 gw belum coba, tp waktu gw tanya ama pedagangnya dia bilang inj kopi didapat dr sekitaran malang aja, mainly sih Dampit. Nanti kl gw uda coba semua, bakal gw update post ini, jadi stay tune! :D

Tahu Telor cap Ngalam

image

Ini kesekian kalinya gw nyampe malang tp pertama kalinya setelah puluhan mudik gw nyobain Tahu Telor abang2 yang biasa lewat depan rumah. Pertama denger tek..tek..tek… hanya dengan berbekal kolor dan singlet gw lari keluar buat nyetop si Abang.

Tahu telor udah dipesen, kolor uda ditutup sarung, kluar lah gw buat merhatiin cara bikinnya. Tahu digoreng 1/2 mateng, masukkin ke mangkok, tuang telor, kocok lepas, goreng potong2, sisihkan.

Nah pas bumbu ternyata simple. Kacang halus, cabe yg uda direbus, sama cairan warna coklat muda kaya air asem jawa. Pas gw tanya air apaan, si Abang dengan pongahnya ngejawa “wah bumbu rahasia mas. Ini uda turun temurun” belagu banget nih abang *jitak si abang pake penggorengan*

Bumbu jadi, tuang di atas tahu telor, taburi toge yang uda disiram air panas biar agak layu. Taburi daun bawang dan peterselli, bawang yoreng. Kasih acar timun. Bayar 7.000 perak.

Rasanya? Ga berubah sejak gw masih SD! Gilak. Nih abangkonsisten bgt bumbunya.

Makanan dinikmati di Malang pukul 21.30 WIB suhu udara 25-27 derajat celcius.

Tahu Campur Suroboyo – Apartemen Kelapa Gading

Pernah ke Surabaya? jika pernah, ada beberapa makanan yang patut dicoba. Selain nikmatnya lontong balap, rujak cingur dan tahu campur layaknya menjadi menu wajib bagi Anda yang ingin bertandang ke kota Pahlawan ini.

Kali ini saya berkesempatan mencicipi nikmatnya tahu campur setelah berbulan-bulan tidak merasakan nikmatnya petis udang.. :)

Tahu campur, sebetulnya khas Lamongan, merupakan sebuah campuran dari tahu, sayur, kikil dan daging-daging jeroan dan tentunya yang khas, petis udang.

Kali ini saya tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya untuk mencoba makanan ini. Kebetulan saya tinggal di daerah Kelapa Gading dan ternyata saya menemukan sebuah warung yang menjajakan tahu campur, tahu bumbu dan rujak cingur tak jauh dari rumah saya. Warung ni terletak di pujasera Apartemen Kelapa Gading, tepat di depan Kelapa Gading Club.

Dengan satu lembar uang 10.000 rupiah saya berhasil menebus sepiring tahu campur khas Suroboyo ini. Porsi yang ditawarkan, menurut saya, pas sesuai dengan jenis makanannya. Sebagai info, jika kita makan tahu campur dengan porsi yang tidak pas–terlalu sedikit/terlalu banya–maka kita tidak akan bisa menikmati lezatnya petis yang ada.

Selain porsi yang pas, jeroan yang disajikan pun cukup banyak, jadi ndak rugi lah kalau ditawarkan dengan harga 10.000 rupiah.

Dengan uap yang mengepul, saya pun langsung menyeruput kuah ttahu campur ini, dan yuumm!! luar biasa! sungguh nikmat, saya serasa berada di kampung halaman sembari menikmati tahu campur bersama keluarga saya. [Lebih Mode: ON] Seriously, it tasted great!

Gurih petis udang yang terasa nyata sangat nikmat, meskipun gatal terasa di tenggorokan saya karena saya alergi udang, but for heaven’s sake, rasa gatal ini terbalaskan dengan nikmatnya masakan ini,

Selain kuah yang nikmat dan jeroan yang empuk, toge dan sayur yang disajikan pun masih segar. Kriuss-kriuss kalau orang jawa bilang. Sayur tidak layu dan tekstur sayur masih sangat nyata terasa di gigi ini.

secara keseluruhan, tahu campur ini sangat direkomendasikan! apa lagi hanya dengan 10.000 rupiah, economic value dari masakan ini hampir mendekati sempurna. jika kerupuk yang diberikan cukup banyak. :p

Anda punya rekomendasi tahu campur lain? silahkan berbagi! :)

PS:

Tambah satu porsi kerupuk = Rp. 2.000

Nasi Campur khas Bali

Pekerjaan saya miliki saat ini mewajibkan saya untuk melakukan perjalanan keliling Indonesia, saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan ini karena saya akan menemui makanan khas dari seluruh pelosok Indonesia. What a job :)

Kali ini saya harus mengunjungi Bali, namun kali ini saya berada di Seminyak, bukan di Kuta seperti beberapa saat lalu.

Di tempat ini saya pun kembali mencoba makanan khas daerah sekitar, usut punya usut sebenarnya yang cukup enak di sini adalah Babi Panggang, namun karena konsumsi daging babi dilarang di agama saya maka saya pun mencoba makanan lain. Pilihan akhirnya jatuh ke nasi campur. Pada kunjungan saya kali ini saya mencoba dua nasi campur yakni Warung Made dan RM Wardhani.

Warung Made ini dikunjungi begitu banyak wisatawan asing yang ingin mencoba makanan khas Bali, tempat yang disajikan pun sangat nyaman, dilengkapi dengan taman, butik bahkan Periplus! Luar biasa! Setelah saya tiba di Warung Made, tak lama saya mencoba nasi campur spesial seharga 55.000 rupiah. Tak lama porsi jumbo pun terhidang di meja saya.

Nasi campur ini sebenarnya nasi yang ditambahkan berbagai macam lauk, seperti nasi rames. Nasi campur warung made ini diikuti oleh beberapa lauk, a.l. udang goreng, telur, daging sapi, ayam, sayuran, dan beberapa lauk lainnya.

Setelah saya cicipi, rasa yang disajjikan tidak seberapa nikmat, malah terasa hambar. Namun sambal yang disajikan sangat pedas. Saya sendiri tidak merekomendasikan menu ini di Warung Made.

Keesokan harinya saya mencari nasi campur yang lebih enak lagi, maka perjalanan saya ini membawa saya ke RM Wardhani, tempatnya sendiri saya tidak tahu, yang pasti njelimet dan saya menyerahkan nasib saya ke supir yang mengantarkan saya. :P

Nasi campur akhirnya kembali terhidang dengan lauk yang tak seberapa beda. Awalnya saya pesimis, karena bentuk yang sama saya pikir rasanya juga akan sama. Namun salah besar, rasa yang dikeluarkan dari lauk yang ada sangat keras dan sangat beragam dari satu lauk ke lauk yang lain. Luar biasa. Sambal yang disajikan pun tidak lah terlalu pedas, sangat pas! Ditemani denga kerupuk dari biota laut yang saya bahkan tidak tahu nama dan bentuknya nasi campur ioni pun terasa lebih nikmat. Saya pun bisa pulang dengan rasa tenang karena telah mendapatkan apa yang saya inginkan.

Jika Anda telah sampai di Bali, coba tanya ke orang sekitar dimana RM Wardhani di daerah Seminyak, mungkin mereka paham. Jangan lupa catat arah perjalanan Anda agar Anda bisa kembali lagi kesana! Jangan ulangi kesalah yang sama, layakanya yang telah saya lakukan. :)

Anda ada pilihan lain untuk nasi campur? Berbagilah di sini…

 

PS:

ini tips yang bisa saya share, mungkin membantu mungkin tidak, namun kalau Anda ingin cari makanan  di Bali, coba cari warung dengan wisatawan asing yang tak banyak. Kenapa? pertama lebih murah, kedua bumbu yang disajikan juga lebih ‘berani’ karena lidah para wisatawan asing berbeda dengan kita yang biasa makan dengan rempah-rempah yang sangat ‘berasa’. Hope it helps. :)

Sate Maranggi – Purwakarta

Perjalanan dinas saya kali ini membawa saya ke salah satu bendungan yang cukup besar, Jatiluhur, Purwakarta. Kali ini selain mendapat kesempatan untuk menikmati track sepeda yang masih segar dan sangat mulus saya juga berkesempatan untuk  menikmati makanan khas yang ada di Purwakarta.

Sebelum saya berangkat, banyak rekomendasi dari kawan-kawan saya untuk mencoba Sate Maranggi, salah satu sate yang cukup terkenal di daerah Purwakarta. Maka, tak banyak pikir, sepulang bermain sepeda, saya pun mencoba untuk mencari keberadaan Sate Maranggi ini. Rumah makan ini sangat mudah untuk ditemui, terletak di Jalan Raya Cibungur, Purwakarta, rumah makan ini tepat ada di sebelah kanan jalan. Jadi kalau Anda menuju arah Jakarta, jangan masuk tol, gunakan jalur lama dari arah Bandung ke Jakarta dan selalu waspada sebelah kanan jalan Anda. Rumah makan ini juga sangat mudah ditemui dan sangat ramai.

Tanpa ba-bi-bu, pertanyaan standar pun terlontar, “Yang khas rumah makan sini apa mbak?”, Tanya saya ke si pelayan. Sate Kambing, Sate Sapi dan Sop Dengkul pun akhirnya jadi pilihan saya atas rekomendasi si Mbak. Tak sampai 15 menit, makanan saya sudah tersaji di meja makan. Yang pertama saya coba adalah Sop Dengkul, dan slluurrpp… luar biasa rasanya! Segar, gurih dan sagat nikmat (saya tidak menambahkan campuran apapun ke sop ini, dan saya menyarankan demikian) kikil dan tulang muda yang disajikan pun sangat empuk. Tak perlu usaha susah payah untuk mengunyah.

Cukup puas dengan Sop ini saya mencoba sate kambing—yang konon sangat enak—dan sekali lagi saya merasakan kesempurnaan. Selain daging kambing, sate ini juga menyematkan beberapa potong hati yang semakin meningkatkan rasa nikmat, dan sate ini tanpa lemak. What a meal! :)

Yang menarik dari sate ini adalah sambal yang disajikan telah dicampur dengan irisan tomat dan sedikit bumbu kacang, kecap akan disediakan di meja dan kita bisa dengan bebas mencampur bumbu ini. Jika Anda tidak terlalu suka pedas, saya sarankan tidak mencampur semua sambal dengan kecap. It’s very hot!

Tiba pada menu terakhir, saya agak pesimis dengan sate sapi yang disajikan, karena menurut saya agak susah mengolah sapi dengan potongan yang agak tebal dan dibakar. Kadang-kadang daging masih a lot atau kurang matang, tapi ternyata SALAH! Dagingnya empuk, bumbu sangat meresap dan tanpa lemak! Again I feel free to eat now… *liat perut buncit*

Tiba pada bagian yang kurang menyenangkan dari prosesi makan-minum ini: membayar. Untuk 15 sate sapi, 5 sate kambing, 1 porsi Sop Dengkul, 3 Teh panas dan 3 Nasi timbel, saya diganjar dengan nominal 57.000 rupiah!! Luar biasa murah!

Saya pun pulang dengan tersenyum puas dan mulai memikirkan kapan saya akan kembali ke tempat ini….

Bagaimana dengan Anda? Sudah pernah mencoba?

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 336 other followers

My Twitter!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 336 other followers