Solo – Kopi dicampur dengan air panas dan diaduk, itu sudah biasa. Tapi, kalau kopi yang airnya berasal dari penguapan air, itu baru luar biasa. Kopi ini dinamakan Kopi Simpon. Penyajian kopi unik ini dapat anda nikmati hanya di Paparon’s Pizza.
Menurut data yang diperoleh dari Bowo Harianto, selaku Assistant Manager di Paparon’s Pizza, kopi ini berasal dari negara tetangga kita, Singapura. Konon, pemilik Paparon’s, Setya Budi Rahardjo, sering berjalan-jalan ke Singapura. Dan ketika pulang, Budi membawa oleh-oleh berupa informasi pengolahan kopi yang unik tersebut.
Dikatakan unik karena cara penyajiannya sangat berbeda dengan penyajian kopi pada biasanya. Kopi tidak langsung dicampurkan dengan air, namun keduanya dipisahkan ke dalam dua tempat yang berbeda. Di mana bagian atas berisi kopi dan di bawah berisi air.
Selanjutnya, sebuah api dengan bahan bakar spiritus dinyalakan dan diletakkan di bagian bawah alat tersebut. Gunanya adalah untuk memanaskan air sehingga air bisa mengalir ke atas. Di sinilah letak keunikkan utamanya. Sebuah analogika yang aneh ketika air mengalir ke atas seiring proses penguapan tersebut.
Air yang telah menguap tersebut lalu bercampur dengan kopi dan akhirnya menjadi satu. Setelah itu, keunikkan kembali Timlo.net temui. Kali ini, ketika air sudah bercampur dengan kopi, air kopi tersebut perlahan turun ke wadah air tersebut setelah melepas vacuum pot. Dan nantinya, vacuum pot ini menjadi pitcher konsumen untuk menuangkan kopinya.
Waktu yang dibutuhkan untuk membuat kopi tersebut hanya 10 menit saja. Dan satupitcher, bisa dinikmati tiga orang penikmat kopi. Untuk menambah rasa mantab, Paparon’s memberikan tambahan gula dan krim Selain pelengkap, kopi ini juga menawarkan tiga pilihan rasa. Yakni Arabica, Kalosi, dan Java.
Timlo.net yang diberi kesempatan untuk mencicipi Kopi Simpon tersebut, menemukan bahwa ampas kopi yang ada memang sangat sedikit bahkan hampir tidak ada. Ini karena filter yang ada di bagian pitcher yang membuat kopi tersebut bersih dari ampas.
Bowo yang juga memimpin operasional di Paparon’s juga terkagum dengan cara pembuatan Kopi Simpon tersebut. “Cara pembuatannya unik, mungkin yang lokal juga ada, tetapi saya yakin kualitasnya berbeda”, ujar Bowo kepada portal ini. Untuk menikmati kopi ini, konsumen tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Karena untuk tiga orang, pasti harganya juga terjangkau bagi para pecinta kopi di Kota Bengawan.
Re-blog dari http://gayahidup.timlo.net/baca/4626/kopi-simpon-cara-penyajian-unik-rasa

Mie Aceh khas.... Aceh

Ini Ule Kareeng, Segini cuma 15K
Mumpung sempet, akhirnya gw samperin juga nih serambi Mekah. Sapa tahu besok2 gw segera naik haji, amin sodara2? Amiinn….
Nah ya, karena uda di Aceh ada baiknya kita sekaliah jelajah rasa. Dari mulai kopi (ya iyalah!) Sampe makanan khasnya. Enuf wif mie Aceh! I want sumthin’ else. You’d better get me one then..
Tapi ya, karena gw tamu akhirnya gw nurut ama tuan rumah. Begitu landing gw uda nyerocos soal kopi aceh, nah setelah browsing kanan-kiri dapetlah gw kopi yg khas. Ulee Kareng namanya. Entah nama Ulee Kareng ini asalnya dari mana.. Dari sini guys..
Setelah mengendarai mobil kududuk di muka, di samping pak supir yang mengendali mobil supaya baik jalannya, pak supir berhenti di satu cafe (baca:warung) namanya Solong. Disini si supir dengan semena2 pesen kopi Ulee Kareng, Mie Kuah dan Telur. Fyi ini masih skitar jam 10/11 pagi. Jadi kl gw menggendut ini bukan salah gw! Salahin pak supir!
Kopinya encer, mungkin krn grinding level yg msh agak coarse dan brewing methode nya pk (secara teoritis sama dengan) paper filter brewing + coffee dip. Jd encer, ga pekat, tp cita rasanya tetep strong meskipun gak over brew.
Nah kalo mie nya ya standar mi Acrh sih cuma ini ekstra telur goreng dan telur setengah mateng aja. Rasanya pedes, panas, dan mie nya kenyal ga over cooked. Tekniknya jago lha. Tapi kalo rasa gw sih prefer mie aceh yg ada di Jakarta, lebih brasa gitu kayanya.. coba pake rumput aceh pasti lebih yahud!
Ah, nanti awak update lah petualangan awak di Aceh. Macam mana ini di tengah hutan malah mengarang bebas macam gini. Pening lah kepala awak ni…
Aceh,
14 Desember 2011
Teuku Umar Didin

Kopi Jagung Sidomukti - Malang

Proses Grinding Kopi
Gw minum kopi sejak kelas 2 SD. And i’m proud of it! Awal bgt gw minum kopi punya eyang kakung dan eyang uti pake sendok, lama2 krn makin lama makin demanding, gw secara official dapet gelas sendiri dan tiap pagi dimulailah kebiasaan gw minumnkopi, instead of minum susu like what normal kids do.
Semenjak itu gw tumbuh dengan kopi. Namun di usia gw yang hampir kepala tiga ini gw ga pernah lipa rasa kopi khas punya Yang Kung dan Yang Ti. Rasanya spesial. It reminds me the warmness of family, the bright early sun in the morning. The l.o.v.e
Nah usut punya usut, ternyata kopi yg eyang gw minum adalah kopi jagung, which agak susah nyari di Jakarta. Nah pas kepulangan gw ke malang kali ini ketemu lah gw sumber rahasia kenikmatan kopi jagung ini. Namanya tokonya Toko Kopi Sidomukti. Di samping perempatan Trend arah ke Pasar Besar Malang. Kliatan plang nya dan kliatan tua nya.
Nah begitu gw masuk dia mainly (90%) jual kopi, selain bubuk jagung, bubuk beras, dan kacang ijo. Sediit sirup dan kecap merek old schoool. Ko jadi kaya #stockopname
Nah, pokoknya akhirnya gw pesen kopi jagung ini. Kalo beli disini masih fresh jadi dari biji dan di grind langsung depan mata. Kopi disini dibagi beberapa level (emang keripik doang yg bs pk level) istimewa, 1, 1b, 2, dan 3. Perbedaannya hanya dari ratio campuran jagungnya aja. Semakin besar angka semakin besar campuran jagungnya. Each gw beli se ons. It costs me Rp. 18K for those packages.
Langsung coba level 3. Kl dr kopinya berasa bgt kopi robusta. Pahit dan sedikit enteng. Krn uda ada campuran jagung rasanya uda agak manis, jd kl mau kasih gula mending dikit2 dulu. Daripada kemanisan.
Kl level 1 gw belum coba, tp waktu gw tanya ama pedagangnya dia bilang inj kopi didapat dr sekitaran malang aja, mainly sih Dampit. Nanti kl gw uda coba semua, bakal gw update post ini, jadi stay tune!
Oktober lalu akhirnya saya berhasil menjejakkan kaki saya di Serambi Mekah. Perjalanan saya dimulai dari Jakarta menuju Medan yang dilanjutkan dengan pesawat kecil menuju Bandara Tjoet Nyak Dien, Meulaboh.
Di Meulaboh ini lah tempat saya benaung untuk 3 hari ke depan. Namun tak lengkap rasanya kalau jalan-jalan tanpa mencicipi makanan khas daerah.. J kebetulan ini juga perjalanan kantor, jadi menu 3 hari ini adalah all you can eat! Hah!
***
Petualangan kuliner saya dimulai di Medan. Di kota ini saya mencicipi soto, katanya, khas Medan di RM. Sinar Pagi. Soto ini berisi jeroan dengan kuah santan yang kental. Rempah dari soto ini cukup terasa dengan sedikit rasa pala yang sempat menyeruak ketika saya mencicipi seseruput kuahnya.
Jeroan terasa cukup empuk namun hambar. Sepertinya soto ini hanya mengandalkan kuahnya yang kental dan gurih. Menurut saya Soto Tangkar Tanah Tinggi jauh lebih nikmat dibandingkan dengan soto ini.
Petualangan kedua saya bertempat di RM Khas Aceh Rayeuk (Aceh Besar, dalam bahasa Indonesia). Di RM ini saya mencoba masakan yang unik, namanya Ayam Tangkap. Saya pikir sebelum dimasak, mereka harus menangkap ayam dahulu. Ternyata tidak. Ayam Tangkap adalah ayam goreng, yang telah dipotong-potong kecil, digoreng dengan berbagai macam rempah. Dari daun jeruk, sereh, jahe, lengkuas, dll. Nah ayam yang sudah terpotong kecil ini akan dicampur dengan rempah-rempah yang akan disajikan di satu piring besar. Untuk menikmati ayamnya kita harus mencari di tumpukan rempah-rempah tersebut, nah karena itu namanya ayam tangkap! Cukup unik ya?
Meulaboh juga terkenal dengan duriannya yang luar biasa, namun sayang saya bukan penggemar durian. Kalau Anda penggemar durian, Anda dijamin tidak akan kecewa!
Namun, sebagai penggemar kopi, saya sangat bersyukur bisa hadir di kota ini. Kopi Meulaboh adalah salah satu kopi yang menjadi incaran saya selama ini.
Kopi ini dibuat dari biji kopi Sumatra yang terkenal dengan sedikit campuran bunga ganja, yup! Bunga ganja! Kopi dan bunga ganja segar dicampur dan disangrai hingga kering lalu digrill dengan tingkatan yang masih sangat kasar (rata-rata biji kopi hanya terbelah dua). Cara menikmati kopi ini pun cukup unik. Kopi direbus, disajikan bersama dengan ampas dan kita menyisip kopi sekaligus menghirup aromanya. Sekilas mirip cara minum wine ya?
Dan, ya, Aceh merupakan salah satu perjalanan saya yang tidak akan saya lupa. That’s the first time I fly with single engine plane, and the pilot still open the manual to define which button should be pressed!!
Spit Your Words!