Pernah ke Surabaya? jika pernah, ada beberapa makanan yang patut dicoba. Selain nikmatnya lontong balap, rujak cingur dan tahu campur layaknya menjadi menu wajib bagi Anda yang ingin bertandang ke kota Pahlawan ini.
Kali ini saya berkesempatan mencicipi nikmatnya tahu campur setelah berbulan-bulan tidak merasakan nikmatnya petis udang..
Tahu campur, sebetulnya khas Lamongan, merupakan sebuah campuran dari tahu, sayur, kikil dan daging-daging jeroan dan tentunya yang khas, petis udang.
Kali ini saya tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya untuk mencoba makanan ini. Kebetulan saya tinggal di daerah Kelapa Gading dan ternyata saya menemukan sebuah warung yang menjajakan tahu campur, tahu bumbu dan rujak cingur tak jauh dari rumah saya. Warung ni terletak di pujasera Apartemen Kelapa Gading, tepat di depan Kelapa Gading Club.
Dengan satu lembar uang 10.000 rupiah saya berhasil menebus sepiring tahu campur khas Suroboyo ini. Porsi yang ditawarkan, menurut saya, pas sesuai dengan jenis makanannya. Sebagai info, jika kita makan tahu campur dengan porsi yang tidak pas–terlalu sedikit/terlalu banya–maka kita tidak akan bisa menikmati lezatnya petis yang ada.
Selain porsi yang pas, jeroan yang disajikan pun cukup banyak, jadi ndak rugi lah kalau ditawarkan dengan harga 10.000 rupiah.
Dengan uap yang mengepul, saya pun langsung menyeruput kuah ttahu campur ini, dan yuumm!! luar biasa! sungguh nikmat, saya serasa berada di kampung halaman sembari menikmati tahu campur bersama keluarga saya. [Lebih Mode: ON] Seriously, it tasted great!
Gurih petis udang yang terasa nyata sangat nikmat, meskipun gatal terasa di tenggorokan saya karena saya alergi udang, but for heaven’s sake, rasa gatal ini terbalaskan dengan nikmatnya masakan ini,
Selain kuah yang nikmat dan jeroan yang empuk, toge dan sayur yang disajikan pun masih segar. Kriuss-kriuss kalau orang jawa bilang. Sayur tidak layu dan tekstur sayur masih sangat nyata terasa di gigi ini.
secara keseluruhan, tahu campur ini sangat direkomendasikan! apa lagi hanya dengan 10.000 rupiah, economic value dari masakan ini hampir mendekati sempurna. jika kerupuk yang diberikan cukup banyak. :p
Anda punya rekomendasi tahu campur lain? silahkan berbagi!
PS:
Tambah satu porsi kerupuk = Rp. 2.000
Perjalanan dinas saya kali ini membawa saya ke salah satu bendungan yang cukup besar, Jatiluhur, Purwakarta. Kali ini selain mendapat kesempatan untuk menikmati track sepeda yang masih segar dan sangat mulus saya juga berkesempatan untuk menikmati makanan khas yang ada di Purwakarta.
Sebelum saya berangkat, banyak rekomendasi dari kawan-kawan saya untuk mencoba Sate Maranggi, salah satu sate yang cukup terkenal di daerah Purwakarta. Maka, tak banyak pikir, sepulang bermain sepeda, saya pun mencoba untuk mencari keberadaan Sate Maranggi ini. Rumah makan ini sangat mudah untuk ditemui, terletak di Jalan Raya Cibungur, Purwakarta, rumah makan ini tepat ada di sebelah kanan jalan. Jadi kalau Anda menuju arah Jakarta, jangan masuk tol, gunakan jalur lama dari arah Bandung ke Jakarta dan selalu waspada sebelah kanan jalan Anda. Rumah makan ini juga sangat mudah ditemui dan sangat ramai.
Tanpa ba-bi-bu, pertanyaan standar pun terlontar, “Yang khas rumah makan sini apa mbak?”, Tanya saya ke si pelayan. Sate Kambing, Sate Sapi dan Sop Dengkul pun akhirnya jadi pilihan saya atas rekomendasi si Mbak. Tak sampai 15 menit, makanan saya sudah tersaji di meja makan. Yang pertama saya coba adalah Sop Dengkul, dan slluurrpp… luar biasa rasanya! Segar, gurih dan sagat nikmat (saya tidak menambahkan campuran apapun ke sop ini, dan saya menyarankan demikian) kikil dan tulang muda yang disajikan pun sangat empuk. Tak perlu usaha susah payah untuk mengunyah.
Cukup puas dengan Sop ini saya mencoba sate kambing—yang konon sangat enak—dan sekali lagi saya merasakan kesempurnaan. Selain daging kambing, sate ini juga menyematkan beberapa potong hati yang semakin meningkatkan rasa nikmat, dan sate ini tanpa lemak. What a meal!
Yang menarik dari sate ini adalah sambal yang disajikan telah dicampur dengan irisan tomat dan sedikit bumbu kacang, kecap akan disediakan di meja dan kita bisa dengan bebas mencampur bumbu ini. Jika Anda tidak terlalu suka pedas, saya sarankan tidak mencampur semua sambal dengan kecap. It’s very hot!
Tiba pada menu terakhir, saya agak pesimis dengan sate sapi yang disajikan, karena menurut saya agak susah mengolah sapi dengan potongan yang agak tebal dan dibakar. Kadang-kadang daging masih a lot atau kurang matang, tapi ternyata SALAH! Dagingnya empuk, bumbu sangat meresap dan tanpa lemak! Again I feel free to eat now… *liat perut buncit*
Tiba pada bagian yang kurang menyenangkan dari prosesi makan-minum ini: membayar. Untuk 15 sate sapi, 5 sate kambing, 1 porsi Sop Dengkul, 3 Teh panas dan 3 Nasi timbel, saya diganjar dengan nominal 57.000 rupiah!! Luar biasa murah!
Saya pun pulang dengan tersenyum puas dan mulai memikirkan kapan saya akan kembali ke tempat ini….
Bagaimana dengan Anda? Sudah pernah mencoba?
Bagi anda pencinta kuliner pasti sudah tidak asing dengan nama Soto Tangkar Tanah Tinggi. Ya, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mencicipi soto legendaris ini.
Bagi anda yang belum tahu apa itu soto tangkar, Soto Tangkar adalah soto khas Betawi masih sepupu lah dengan Soto Betawi, hanya saja kuahnya lebih merah, dan memang ciri khas betawi (baca: jeroan, santan dan daging) masih lekat di soto ini. Konon soto tangkar, pada waktu Indonesia belum merdeka, hanya dinikmati oleh rakyat jelata karena berisi daging dan tulang sisa, namun seiring berjalannya waktu, Soto Tangkar telah dinikmati berbagai kalangan.
Ok, kembali ke Soto Tangkar Tanah Tinggi, pertama kali saya sampai di tempatnya hal pertama yang terlintas adalah, pasti sotonya enak sekali, karena tempatnya kecil, sumpek, panas, asap dimana-mana TAPI penuh! Akhirnya saya pesan chef specialty, soto tangkar campur dan sate sapi. Tak lama soto hadir dengan isi yang penuh dan sate datang ditemani saus kacang yang banyak, dan potongan daging yang cukup besar. Slluurpp… kuahnya gurih, bukan cuma gurih, ada satu rasa yang saya belum bsia ceritakan, karena saya juga kurang paham rasa apa, tapi yang pasti cukup menggoyang lidah ko!
Santan yang super kental dan jeroan yang banyak tidak lantas membuat soto ini jadi eneg, tapi sebaliknya, malah bikin napsu ngembat, kalau kata orang betawi. Jeroan empuk, kikil tidak terlalu lembek, nearly perfect. Mungkin ini efek mereka memakai bara kayu untuk masak bukan kompor gas. Beralih ke sate, potongan daging yang besar membuat sate yang disajikan sedikit alot, tapi masih dalam batas wajar lah karena masih bisa dikunyah dengan cukup baik. Bumbu kacang yang disertakan memang tidak diberikan terlalu banyak kecap, toh kita bisa tambah sendiri. Cukup okelah sate yang satu ini.
Sebenarnya disini juga ada sop kambing, saya sempat mencicipi sedikit—minta punya teman—tapi ko agak kurang ya? Mungkin sop kambing ini hanya menu tambahan jadi kurang dapat “perhatian”. Kalau mau mampir, saya sarankan jangan pas jam makan siang, karena seperti yang saya sebutkan tadi, panas, penuh sumpek… tapi tetep ko, tetep enak.
Price: 30.000-an untuk soto, nasi, perkedel, teh dan sate
Tempat: Jl. Tanah Tinggi III No. 54, Jakarta Pusat, masuk lewat Kelurahan Tanah Tinggi. Buka Jam 11:00-21:00
Siang ini, setelah sholat Jumat tepatnya (rejeki emang ga kemana
), saya mendapatkan kabar gembira. Teman saya ulang tahun dan akan traktir di Sop Ikan Batam. Dari pertama saya pindah ke Kelapa Gading, Sop Ikan Batam jadi salah satu restoran incaran saya. Terutama karena Sop Ikannya, meskipun restoran ini juga menawarkan banyak menu lainnya.

Selepas sholat Jumat pak supir kantor sudah menunggu di depan lobby dan kami pun menancap gas. Dengan jarak yang tak seberapa jauh—bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki—Sop Ikan Batam (SIB) ini terletak di ruko seberang Mall Of Indonesia. Kelihatan banget ko neon sign restoran ini.
Setiba di TKP, sup ikan pun sudah di depan meja lengkap dengan sepiring nasi putih, tapi sayang sup ini tidak disajikan panas, hanya hangat. Kalau dilihat dari tampilannya memang tidak terlalu beda dengan sup yang lain, hanya irisan daging ikan tenggiri yang cukup tebal dan kuah yang sedikit keruh yang jadi pembeda dengan sup lainnya.
Sesisip kuah sup ini terasa begitu asin, namun asin yang saya rasakan bukan asin garam, karena keheranan akhirnya saya mengaduk-aduk semangkuk sup itu, dan ternyata penyebabnya adalah potongan sayur asin (dari sayur asin yang biasa dimasak dengan ba-kut—babi—dan biasanya sayur asin ini dijual dalam kemasan plastik) yang dicampur di sup ini. Ahh luar biasa rasanya, serasa kembali ke Malang dan mencicipi masakan Mama.
Yang menarik adalah sayur asin yang biasa saya makan adalah sawi pahit, tapi kali ini sawi ini diganti dengan sawi putih, jadi warna yang ada adalah putih bersih bukannya hijau lumut sebagaimana sayur asin biasanya. Selain sayur asin mereka juga menambahkan tomat dan cabai rawit potong sebagai tambahan (optional). Namun sayang nampaknya mereka terlalu banyak mencampurkan sayur asin (atau salah olah) ke dalam kuah sehingga rasa asin yang disajikan terlalu asin, bahkan kuah kaldu tenggiri pun jadi kalah.
Ada tips unik dari supir kantor saya untuk mengatasi rasa asin ini, sisip beberapa sendok kuah beserta isinya, kunyah potongan cabai rawit dan segera makan dengan nasi. And it works! tapi akhirnya rasa asin diganti dengan mulut penuh tidak karuan dan rasa pedas yang menyakitkan. That’s why U’re the driver not the boss…
Untungnya rasa asin dari kuah ini bisa sedikit dibantu daging ikan tenggiri yang empuk. Irisan tebal daging ikan tenggiri ini serasa “lumer” di mulut. Sepertinya saya belum sempat mengunyah daging ini tapi sudah hancur duluan. Mungkin makanan ini cocok untuk nenek saya.
Overall, kalau anda suka sayur asin dan tidak bisa makan babi lagi, mungkin sop ini bisa jadi pengobat rindu anda.
Harga: unknown (ditraktir sih :p, tapi akan saya update ko.. tenang aja
)
Spit Your Words!