Umur gw udah 25 tahun, dan baru sekali gw makan di depan penggorengan. Yep! nama kerennya restoran tepanyaki. Jadi kalo lo makan di warung model begini, nyang masak ada di depan muka. Jadi bakal ketauan dia masak apa pake bumbu apa dan kalo masak jempolnya ikut nyelup ke makanan apa gak (ini penting!).
Akhirnya gw makan juga di warung macem gini. Pas liat cara masaknya, ternyata gampang banget. Bumbunya pun gampang.. akhirnya gw buat sendiri aja makanan model begini.
Simple Chicken Teriyaki
Ingredients:
Chicken Fillet 100gr, potong dadu
Sawi Bok Choy 1 ikat, potong-potong, sisihkan
Tauge 1 genggam, bersihkan, sisihkan
Bawang putih 3 siung, geprek dan cincang halus, bagi jadi 3 bagian, sisihkan
Saus teriyaki instan 1-2 SDM
Telur 1 biji, kocok lepas
Bawang bombay, seperempat biji
Garam
Merica
Minyak goreng secukupnya
Cara Masak
Tumis 1 bagian bawang putih hingga harum
Masukkan sawi dan sedikit air
tambahkan garam dan merica sisihkan
Tumis 1 bagian bawang putih hingga harum
Masukkan tauge dan sedikit air
tambahkan garam dan merica, sisihkan
Goreng telur, orak-arik, sisihkan
Tumis bawang putih hingga harum
Masukkan bawang bombay
Masukkan ayam
Tambahkan sedikit air
Masukkan saus teriyaki
Masak hingga sedikit mengental
Sajikan paduan sayur dan ayam dengan nasi hangat
Mudah bukan? *gaya Sisca Soewitomo*
Kali ini petualangan gw adalah Jelajah (setengah) Sumatra! yup, gw nyampe di Banda Aceh dan akan pulang dari Medan, semuanya akan dilalui dengan moda transportasi: mobil. Itulah kenapa gw asuransi pantat gw, I spent almost my entire trip by sitting. Bisa rata pantat gw.
oke, cukup bahas soal pantat. Hari pertama nyampe Banda Aceh, gw uda disuguhi kopi Ule Kareeng. Empat jam kemudian tiba lah gw di daerah yang namanya Calang. Selama perjalanan dari Banda Aceh ke Calang gw disuguhi pemandangan pantai yang baguss banget. Pantainya landai, pasirnya putih tulang bersih, airnya hijau dan langit biru yang cerah.. man! awesomeness!
oh ya, yang asik lagi jalan dari Banda menuju Calang itu mulus banget aspalnya dan sepi. Jadi itu jalan yang bangun–katanya–USAID dengan dana lebih dari Rp. 1 Triliun. Tapi yang pasti enak banget. Ga ada macet, mulus, pemandangan asik banget. Gw langsung lupa ada kota yang namanya Jakarta.
Sampe di Calang, gw stay di mess kebun yang terletak di atas bukit. Pemandangan dari bukit ini langsung laut lepas, dan gilak! bagus banget! Mess ini adalah bangunan tertinggi di radius beberapa kilometer.
siang-siang gw nyampe, duduk di gazebo depan mess, minum kelapa muda, feel the breeze dengerin suara burung berkicau, liat birunya laut lepas… oh, how can I not love my job?
Akhirnya tibalah gw di acara yang dinanti: Makan Siang! Hah! makan sudah tersaji di meja makan, menunya: Ikan Merah Bakar, yang konon paling mahal di Aceh, Sop Kepiting dan Sambal Kecap. Amboyyy rasanya.. #halah
Tapi ini seriusan ya, lo makan nasih pake garem juga kalo viewnya kaya diatas, man lo uda kaya makan caviar! Itu ikan bakar enak dan gede banget, lemak di bawah kulitnya itu yang mantep, kulitnya tebel, empuk, jadi mirip kikil. Rasanya? beuh! jangan di tanya deh..
Kepitingnya? Gede gilak! gw (cuma) makan 4 claws tapi 1 claw itu bisa segede setengah telapak tangan gw. And yes, I have a pretty huge palm.. rasa sop nya sih biasa aja, kaya sop ayam biasa. Tapi gede kepitingnya tuh yang bikin mak nyus..
Siang berganti malam dan malam pun berganti pagi. Tepat jam 6.30 gw bangun dan keluar rumah, dan voila! masih gelap! tapi kicau burung, serangga bahkan suara monyet kedengeran jelas dari atas sini. Gw ambil secangkir kopi Aceh, gw duduk, diem, tutup mata dan dengerin suara ini:
beuh… rasanya sejuta! ga berapa lama gw melanjutkan perjalan ke Singkil, sekitar 8 jam perjalanan dari Calang. Di tengah jalan sempet makan ikan Karang Goreng dengan sambel khas daerah sini. Bawang merah potong tipis, cabe rawit, jeruk nipis dan kecap. Yumm! Plus telur Penyu. Tapi gw ga makan telur penyu.
Gw makan di RM. Pantai Putih, di pinggir pantai, gw ga tau daerah mana, tapi banyak juga yang brenti daerah sini kok.. ikan Karang ternyata enak juga ya. Gurih dan tulangnya ga banyak. Sambelnya un bikin nambah. Tapi gw ga makan telur penyu. Satu emang karena gw ga makan dari hewan langka kedua kulitnya lembek2 gimana gitu.. yuck!
ya itu sedikit oleh2 dari Aceh. Nanti yang Medan nyambung lagi ya…
Solo – Kopi dicampur dengan air panas dan diaduk, itu sudah biasa. Tapi, kalau kopi yang airnya berasal dari penguapan air, itu baru luar biasa. Kopi ini dinamakan Kopi Simpon. Penyajian kopi unik ini dapat anda nikmati hanya di Paparon’s Pizza.
Menurut data yang diperoleh dari Bowo Harianto, selaku Assistant Manager di Paparon’s Pizza, kopi ini berasal dari negara tetangga kita, Singapura. Konon, pemilik Paparon’s, Setya Budi Rahardjo, sering berjalan-jalan ke Singapura. Dan ketika pulang, Budi membawa oleh-oleh berupa informasi pengolahan kopi yang unik tersebut.
Dikatakan unik karena cara penyajiannya sangat berbeda dengan penyajian kopi pada biasanya. Kopi tidak langsung dicampurkan dengan air, namun keduanya dipisahkan ke dalam dua tempat yang berbeda. Di mana bagian atas berisi kopi dan di bawah berisi air.
Selanjutnya, sebuah api dengan bahan bakar spiritus dinyalakan dan diletakkan di bagian bawah alat tersebut. Gunanya adalah untuk memanaskan air sehingga air bisa mengalir ke atas. Di sinilah letak keunikkan utamanya. Sebuah analogika yang aneh ketika air mengalir ke atas seiring proses penguapan tersebut.
Air yang telah menguap tersebut lalu bercampur dengan kopi dan akhirnya menjadi satu. Setelah itu, keunikkan kembali Timlo.net temui. Kali ini, ketika air sudah bercampur dengan kopi, air kopi tersebut perlahan turun ke wadah air tersebut setelah melepas vacuum pot. Dan nantinya, vacuum pot ini menjadi pitcher konsumen untuk menuangkan kopinya.
Waktu yang dibutuhkan untuk membuat kopi tersebut hanya 10 menit saja. Dan satupitcher, bisa dinikmati tiga orang penikmat kopi. Untuk menambah rasa mantab, Paparon’s memberikan tambahan gula dan krim Selain pelengkap, kopi ini juga menawarkan tiga pilihan rasa. Yakni Arabica, Kalosi, dan Java.
Timlo.net yang diberi kesempatan untuk mencicipi Kopi Simpon tersebut, menemukan bahwa ampas kopi yang ada memang sangat sedikit bahkan hampir tidak ada. Ini karena filter yang ada di bagian pitcher yang membuat kopi tersebut bersih dari ampas.
Bowo yang juga memimpin operasional di Paparon’s juga terkagum dengan cara pembuatan Kopi Simpon tersebut. “Cara pembuatannya unik, mungkin yang lokal juga ada, tetapi saya yakin kualitasnya berbeda”, ujar Bowo kepada portal ini. Untuk menikmati kopi ini, konsumen tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Karena untuk tiga orang, pasti harganya juga terjangkau bagi para pecinta kopi di Kota Bengawan.
Re-blog dari http://gayahidup.timlo.net/baca/4626/kopi-simpon-cara-penyajian-unik-rasa

Mie Aceh khas.... Aceh

Ini Ule Kareeng, Segini cuma 15K
Mumpung sempet, akhirnya gw samperin juga nih serambi Mekah. Sapa tahu besok2 gw segera naik haji, amin sodara2? Amiinn….
Nah ya, karena uda di Aceh ada baiknya kita sekaliah jelajah rasa. Dari mulai kopi (ya iyalah!) Sampe makanan khasnya. Enuf wif mie Aceh! I want sumthin’ else. You’d better get me one then..
Tapi ya, karena gw tamu akhirnya gw nurut ama tuan rumah. Begitu landing gw uda nyerocos soal kopi aceh, nah setelah browsing kanan-kiri dapetlah gw kopi yg khas. Ulee Kareng namanya. Entah nama Ulee Kareng ini asalnya dari mana.. Dari sini guys..
Setelah mengendarai mobil kududuk di muka, di samping pak supir yang mengendali mobil supaya baik jalannya, pak supir berhenti di satu cafe (baca:warung) namanya Solong. Disini si supir dengan semena2 pesen kopi Ulee Kareng, Mie Kuah dan Telur. Fyi ini masih skitar jam 10/11 pagi. Jadi kl gw menggendut ini bukan salah gw! Salahin pak supir!
Kopinya encer, mungkin krn grinding level yg msh agak coarse dan brewing methode nya pk (secara teoritis sama dengan) paper filter brewing + coffee dip. Jd encer, ga pekat, tp cita rasanya tetep strong meskipun gak over brew.
Nah kalo mie nya ya standar mi Acrh sih cuma ini ekstra telur goreng dan telur setengah mateng aja. Rasanya pedes, panas, dan mie nya kenyal ga over cooked. Tekniknya jago lha. Tapi kalo rasa gw sih prefer mie aceh yg ada di Jakarta, lebih brasa gitu kayanya.. coba pake rumput aceh pasti lebih yahud!
Ah, nanti awak update lah petualangan awak di Aceh. Macam mana ini di tengah hutan malah mengarang bebas macam gini. Pening lah kepala awak ni…
Aceh,
14 Desember 2011
Teuku Umar Didin

Kopi Jagung Sidomukti - Malang

Proses Grinding Kopi
Gw minum kopi sejak kelas 2 SD. And i’m proud of it! Awal bgt gw minum kopi punya eyang kakung dan eyang uti pake sendok, lama2 krn makin lama makin demanding, gw secara official dapet gelas sendiri dan tiap pagi dimulailah kebiasaan gw minumnkopi, instead of minum susu like what normal kids do.
Semenjak itu gw tumbuh dengan kopi. Namun di usia gw yang hampir kepala tiga ini gw ga pernah lipa rasa kopi khas punya Yang Kung dan Yang Ti. Rasanya spesial. It reminds me the warmness of family, the bright early sun in the morning. The l.o.v.e
Nah usut punya usut, ternyata kopi yg eyang gw minum adalah kopi jagung, which agak susah nyari di Jakarta. Nah pas kepulangan gw ke malang kali ini ketemu lah gw sumber rahasia kenikmatan kopi jagung ini. Namanya tokonya Toko Kopi Sidomukti. Di samping perempatan Trend arah ke Pasar Besar Malang. Kliatan plang nya dan kliatan tua nya.
Nah begitu gw masuk dia mainly (90%) jual kopi, selain bubuk jagung, bubuk beras, dan kacang ijo. Sediit sirup dan kecap merek old schoool. Ko jadi kaya #stockopname
Nah, pokoknya akhirnya gw pesen kopi jagung ini. Kalo beli disini masih fresh jadi dari biji dan di grind langsung depan mata. Kopi disini dibagi beberapa level (emang keripik doang yg bs pk level) istimewa, 1, 1b, 2, dan 3. Perbedaannya hanya dari ratio campuran jagungnya aja. Semakin besar angka semakin besar campuran jagungnya. Each gw beli se ons. It costs me Rp. 18K for those packages.
Langsung coba level 3. Kl dr kopinya berasa bgt kopi robusta. Pahit dan sedikit enteng. Krn uda ada campuran jagung rasanya uda agak manis, jd kl mau kasih gula mending dikit2 dulu. Daripada kemanisan.
Kl level 1 gw belum coba, tp waktu gw tanya ama pedagangnya dia bilang inj kopi didapat dr sekitaran malang aja, mainly sih Dampit. Nanti kl gw uda coba semua, bakal gw update post ini, jadi stay tune!

Chicken Tandori

Ki-Ka Peking Duck - Roasted Lamb - Turkey

Dessert!

Soto Bogor
AKHIRNYA GW KE SATOO! hah! Eat that. Yeah i know i cudn’t be more norak than this. I know.
Thanks to makan malam closing dr company, akhirnya gw ke satoo. Karena over excited, gw sempet browsing2 dulu malemnya dan ga bisa tidur semaleman ngebayangin mau makan di Satoo. #taee
Jadi begitu sampe Satoo, gw langsung coba semua makanan yang recommended (setidaknya by Google). Ohya satoo ini all u can eat ya, jd ada baeknya perut dikuras dulu siang sebelumnya. *mentalanakkos*
Pertama dicoba, chicken tandori dari India Food Corner. Ambil sdikit chicken, some sort of tortilla chips dan nasi nya (gw ga tau nama nasinya tp panjang2). Nasinya agak tasteless sih. Masih mending nasi uduk bu Romlah samping kosan. Tortilla chips wannabenya berasa bgt teoungnya, gw sih ga suka. Tp bt elo yg doyan nyemil Bogasari, maybe you’ll like it.
Nah masuk ayamnya, meakipun kental dengan santan, rasanya sangat light. Cenderung ga berasa rempah (gw berharapnya sgt brasa rempahnya). Daging semua, fat free. Gw sih ga seberapa suka. Lbh prefer yg agak berlemak gitu..
Second round. Satu piring isinya: Peking Duck, Roasted Lamb dan Turkey. Peking duck dibungkus pake sejenis kukit lumpua basah tp agak tebel dg timun dan daun bawang didalemnya. Makannya pake Hoisi Sauce. Rasanya? All good except the lumpia skin. Again it tasted very floury! What’s wrong w/ u guys? Too much love flour will kill you. The duck is awesome the sauce is uberrrrr awesome!
But then i came to to roasted lamb and turkey. The lamb is good. But it smeels like wedhus. You know? Yes wedhus. I didn’t feel good w/ this. Turkey kalkunnya enak. Gw sempet minta yg paha dan si mbak nga kasih yg ada lemak plus kulitnya. Ih mbaknya pengertian bgt deh. Pacarin juga nih #eeaaa #OOT
Tapi untuk dua masakan terakhir saucenya agak berasa asing di lidah gue. Gw ga bilang ga enak, tp yg pasti gw ga kebiasa. U may try and say.
Next, gw coba selera nusantara. Sebenernya ada siomay, batagor, pecel, etc. Tp gw pilih soto bogor. Latar belakang pemilihan: uda (di)bayar(in) mahal masa makan daon? Please deh! Hipotesa awal: it’s gonna be aweasome. Satoo dan soto bogor.
Dan… it turna out that i have a very good gut feeling! It tasted awesome! It’s light yet rich. Gw bisa rasain rempahnya, santennya dan gurih jeroannya. Man.. juara! Kl ga inget kolesterol gw uda bungkus bakal sarapan di kos tuh..
Nah ini penutup oops mksud gue pencuci mulut. Strawberry chocolate fondue dan Brandy Sauce. Strawberrynya, asu tenan! Uenak… begitu gw icipin, gw berasa lagi dibawah fondue nya dan berlari2 kecil di bawah siraman coklat strawberry lho! #lebay
Gw makan pake marshmallow, gummy bear candy dan freah strawberry. Enaaakk banget. Coklatnya ga bikin eneg.
iseng gw tambahin Brandy Saucenya. Enak sih tp alkoholnya brasa bgt..
Nah itu pngalaman gw di Satoo – Shangrilla. Kl pengalaman lo? Share dong!

Ini kesekian kalinya gw nyampe malang tp pertama kalinya setelah puluhan mudik gw nyobain Tahu Telor abang2 yang biasa lewat depan rumah. Pertama denger tek..tek..tek… hanya dengan berbekal kolor dan singlet gw lari keluar buat nyetop si Abang.
Tahu telor udah dipesen, kolor uda ditutup sarung, kluar lah gw buat merhatiin cara bikinnya. Tahu digoreng 1/2 mateng, masukkin ke mangkok, tuang telor, kocok lepas, goreng potong2, sisihkan.
Nah pas bumbu ternyata simple. Kacang halus, cabe yg uda direbus, sama cairan warna coklat muda kaya air asem jawa. Pas gw tanya air apaan, si Abang dengan pongahnya ngejawa “wah bumbu rahasia mas. Ini uda turun temurun” belagu banget nih abang *jitak si abang pake penggorengan*
Bumbu jadi, tuang di atas tahu telor, taburi toge yang uda disiram air panas biar agak layu. Taburi daun bawang dan peterselli, bawang yoreng. Kasih acar timun. Bayar 7.000 perak.
Rasanya? Ga berubah sejak gw masih SD! Gilak. Nih abangkonsisten bgt bumbunya.
Makanan dinikmati di Malang pukul 21.30 WIB suhu udara 25-27 derajat celcius.
Hari ini pas bangun pagi, ga sengaja TV gw muter Venue & Menue di Metro TV yang dipandu sama Chef Haryo. Di episode itu Chef Haryo lagi ngebahas mie godok khas gunung kidul. Karena tertarik akhirnya bangun tidur, minum kopi, belanja dan masak mi godok a la DidinDimas
Nah, karena gw uda pernah ngerasain mie mbah mo setidaknya gw udah punya sedikit panduan di lidah kira2 rasa mi godok itu kaya apa. Di bawah ini adalah resep yg gw pake, kalo rasa, ga terlalu beda sama mbah mo (sumpah!) enakan mana? ya enakan mbah mo lah… :p tapi setidaknya ini cukup enak ko, boleh dicoba.
Bahan:
mie telor yang kering 1 pak, rebus dengan ari dan sedikit minyak, tiriskan
telur 2 biji, kocok lepas
1 sachet kaldu
kol seperempat bundar, iris kasar
bakso sapi 6 pcs, potong jadi dua
1/4 ekor ayam, rebus hingga matang, suwir2
ati ampela (jika ada)
tomat segar, 1 biji potong jadi 4 bagian
bumbu halus:
5 biji kemiri
3 siung bawang putih
merica secukupnya
garam secukupnya
gula secukupnya
Cara Masak
tumis bumbu haslus dengan sedikit minyak
jika sudah harum masukkan bakso dan ayam serta ati ampela tumis sesaat
masukkan 500ml air
masukkan 1 sachet kaldu ayam
jika sudah mulai agak mendidih masukkan kol dan tomat
masukkan mi dan segera tuang telur yang sudah dikocok
aduk memutar secara perlahan
masak sebentar, sajikan.
tips:
Mi masuk terakhir, agar tidak terlalu lembek
gunakan sedikit minyak
Spit Your Words!